Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Desa di Bantul Bikin Dapur Warganya Ngebul dari Tumpukan Sampah
Pengelolaan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • TPS Go-Sari di Guwosari, Bantul berhasil mengubah sampah menjadi sumber penghidupan bagi puluhan warga, sekaligus menjaga kebersihan lingkungan desa melalui sistem pengelolaan terpadu.
  • Berawal dari inisiatif BUMDes sejak 2019, TPS Go-Sari kini mempekerjakan 27 orang dan menerapkan konsep zero waste dengan dukungan kolaborasi berbagai pihak termasuk Pertamina Patra Niaga.
  • Dengan melayani 1.500 pelanggan dan mengelola sekitar 4 ton sampah per hari, TPS Go-Sari mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp80 juta per bulan dari layanan dan hasil olahan sampah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times – Kendaraan bermuatan sampah silih berganti berdatangan di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026) pagi. Di lahan seluas sekitar 1,5 hektare itu, aktivitas pengelolaan sampah, peternakan ayam petelur, budidaya maggot, hingga perkebunan sederhana tumbuh.

Puluhan warga Guwosari yang menggantungkan hidupnya di TPS Go-Sari tampak sibuk pagi itu. Beberapa orang tampak menyambut datangnya sampah. Beberapa lainnya, sibuk memilah sampah yang sudah datang lebih awal. Para pekerja datang dengan berbagai latar belakang dan rentang usia, dari muda hingga lansia tampak sepenuh hati menjalankan tugasnya.

1. Sumber penghidupan dan upaya menjaga lingkungan

Pengelolaan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Salah satu pekerja, Amrul Sukma Hidayat (25) mengungkapkan adanya TPS Go-Sari membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pria tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu merasa beruntung setelah tidak lagi bekerja di pabrik paralon, dirinya bisa bekerja di TPS Go-Sari. 

“Ya cuma lulus SMP, sempat ikut kejar Paket C juga belum lulus. Sekarang ada pekerjaan ini tentu sangat membantu, pendapatan cukup,” ungkap Amrul. 

Pria yang sudah bekerja di TPS Go-Sari sekitar 6 tahun itu, sehari-hari membantu di bagian administrasi. Lingkungan kerja yang nyaman, semakin membuatnya semangat untuk menjalani pekerjaan.

Amrul tidak melihat sekadar dari sisi pendapatan. Baginya bekerja di TPS Go-Sari juga turut menjaga lingkungan tempat dirinya tumbuh. “Lingkungan di sini menjadi lebih bersih, berbeda jauh sebelum ada TPS Go-Sari,” kata Amrul.

Ia berharap sampah yang dikelola TPS Go-Sari semakin bertambah, sehingga dampak positif semakin luas. “Harapannya Go-Sari bisa mengelola sampah lebih banyak lagi, sehingga mengurangi sampah, desa semakin bersih,” ungkapnya.

Kebermanfaatan TPS Go-Sari tidak hanya dirasakan generasi muda. Manfaat juga dirasakan mereka para lansia. Salah satunya, Tarminah (83) yang sudah bekerja di tempat ini sekitar dua tahun. Baginya, kehadiran TPS Go-Sari menjadi pengisi kekosongan di usia senja.

“Sempat kerja di tempat rongsok sebelumnya 4 tahunan. Terus sudah gak ada kerjaan, pindah ke sini. Alhamdulillah lancar di sini. Pendapatan ya cukup. Paling penting di sini ada kegiatan, kalau gak ada kerjaan malah bingung mau ngapain,” kata Tarminah.

2. Perjalanan panjang TPS Go-Sari

Pengelolaan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Lurah Guwosari, Masduki Rahmad, mengungkapkan TPS Go-Sari merupakan salah satu implementasi Pemerintah Desa menjaga lingkungan hidup sekaligus membuat lapangan pekerjaan bagi warga desa. TPS Go-Sari berawal dari inisiasi musyawarah desa untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), salah satunya pengolahan sampah.

TPS Go-Sari tidak seketika besar, proses panjang dilalui dengan berbagai dinamika. Mulai 2019 terbentuk, butuh waktu tiga tahun untuk mencari konsep trial and error. Sekitar 2021 baru menerapkan zero waste dengan kolaborasi berbagai pihak, termasuk PT Pertamina Patra Niaga, kurang lebih dua tahun ini. Kini TPS Go-Sari sudah memiliki 27 tenaga kerja yang awalnya hanya 6 tenaga kerja.

“Artinya dari sampah bisa menjadi berkah bagi warga di desa kami. Sehingga mimpi kami bagaimana permasalahan yang ada di Guwosari bisa ditutupi dengan potensi sumber daya manusia maupun inovasi yang kemudian kita integrasikan dengan badan usaha milik desa,” ucap Masduki.

Masduki menegaskan BUMDes di Guwosari tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun juga memberikan kebermanfaatan bagi warga. “Baik itu membuka lapangan pekerjaan, menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) maupun menjaga lingkungan di Kalurahan Guwosari,” ungkapnya.

Ia mengakui sampah menjadi persoalan serius sebelum ada TPS Go-Sari. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 17 ribu, dengan karakteristik yang majemuk, sejumlah wilayah tidak memiliki lahan dalam mengelola sampah.

“Dulu banyak orang apatis terhadap sampah, sehingga mereka membuang sampah di pinggir jalan, ada yang kemudian di beberapa fasilitas umum. Dari itu kita memandang perlu tempat pengolahan sampah yang terintegrasi yang konsepnya adalah zero waste. Sampah itu selesai di desa,” kata Masduki.

Edukasi pun terus berjalan agar 17 ribu warga paham bahwa permasalahan sampah tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab seluruh masyarakat. “Dari sampah ini bisa menjadi berkah, menjadi keuntungan, sirkular ekonomi untuk menuju ketahanan pangan dan lain sebagainya,” ucapnya.

3. Puluhan juta dihasilkan dalam satu bulan

Penyerahan bantuan Pertamina di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Direktur BUMDes Guwosari, Hendri, menjelaskan sistem kerja TPS Go-Sari merupakan TPS3R yang menarget warga Guwosari. Mereka mendapat layanan penjemputan sampah dengan cara mendaftar. Satu minggu dua kali sampah warga akan dijemput oleh petugas. Warga cukup membayar langganan Rp40 ribu per bulan.

TPS3R itu menyelesaikan pengelolaan sampah dalam satu hari. Sampah yang terkumpul segera dipilah dan diselesaikan pada hari yang sama. Sampah dikelompokkan berdasar jenisnya. Setiap harinya sampah yang terkumpul kisaran 4 ton. “Dulu awalnya 100 pelanggan, tahun ini kami sudah melayani 1.500 pelanggan. Harapannya tentu bisa meng-cover 100 persen,” ucap Hendri.

Dari bisnis yang dikelola TPS Go-Sari pendapatan yang diperoleh bisa mencapai Rp80 juta per bulan. “Itu didapat dari masyarakat yang langganan. Kemudian dari hasil jual rongsok, hasil kompos, hasil penjualan maggot, dan yang lainnya” ungkapnya.

Dari pendapatan yang diperoleh TPS Go-Sari itu, BUMDes bisa menghidupi masyarakat sekitar yang memiliki latar belakang beragam. “Ada berlatar belakang dulunya sebagai pekerja tukang, kemudian mendaftar untuk jadi pengelola sampah. Kemudian ada juga yang pemuda putus sekolah, kemudian mendaftar di tempat kami,” kata Hendri.

4. Kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak

Penanaman pohon oleh Pertamina di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Go-Sari di Guwosari, Pajangan, Bantul, Jumat (5/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Corporate Secretary PT Pertamina, Arya Dwi Paramita, dalam kunjungannya di TPS Go-Sari saat seremonial Hari Lingkungan Hidup Pertamina Patra Niaga, mengapresiasi berkembangnya BUMDes Guwosari. “Alhamdulillah menggembirakan perkembangannya. Informasi yang kami terima telah memberi dampak positif,” ungkap Arya. 

Arya mendorong agar beberapa kekurangan yang masih ada bisa diperbaiki. Selain itu Arya mengharapkan TPS Go-Sari memanfaatkan peluang yang ada. “Bisa menjadi pemasok telur dari peternakan ke SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi),” kata dia.

Area Manager Communication Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga, Jawa Tengah dan DIY, Taufiq Kurniawan, menambahkan dalam kegiatan hari ini pihaknya menyerahkan bantuan pengembangan Program Go-Sari senilai Rp150 juta. Bantuan ini diharapkan dapat membantu pengembangan TPS3R tersebut. 

“Momen hari lingkungan hidup ini kami hadir langsung di tempat yang saat ini menjadi isu nasional yakni mengenai persoalan sampah. Masyarakat di sini juga sudah sangat semangat dalam mengelola sampah,” ungkap Taufiq. 

Hal itu terlihat dari pengelolaan sampah menjadi eco furniture, palet dari sampah plastik yang dijadikan meja. Selain itu juga ada budi daya maggot, dan pengembangan peternakan ayam petelur. Setelah berjalan lebih kurang 2 tahun, dukungan dari Pertamina Patra Niaga pun masih berlanjut. Diharap setelah 5 tahun masyarakat semakin mandiri. 

“Kami kemarin juga melakukan diskusi dengan Universitas Gadjah Mada, membuka peluang-peluang untuk akademisi itu bisa masuk. Intinya kami sebagai perusahaan itu juga menjadi hub, bahwa setiap orang atau setiap instansi bisa memberikan masukan yang terbaik untuk niat kita bersama perbaikan kualitas lingkungan,” ujar Taufiq.

Selain menggandeng akademisi, Taufiq mengatakan ke depan pihaknya juga akan menggandeng Lapas Kelas IIB Bantul. Nantinya akan ada program yang mengintegrasikan warga binaan dengan pengembangan TPS Go-Sari. “Warga binaan yang sudah mendekati lulus mungkin ya bisa melakukan pemilahan sampah di sini atau kerajinan palet, atau beberapa kreativitas lainnya bisa kita bawa ke dalam direplikasi,” ucap Taufiq.

Dalam kesempatan ini Pertamina juga menyerahkan 1.000 bibit Pohon Pule, Ketapang, dan buah-buahan. Bantuan ini disebut juga sebagai wujud kepedulian Pertamina terhadap kualitas lingkungan.

Editorial Team

Related Article