Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesiapsiagaan dan Ingatan Kolektif Kunci Hadapi Ancaman Gempa Jogja
Seminar Sinergi UGM-Kagama 20 Tahun Gempa Yogya 2006 & Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di Gedung Pusat UGM, Sabtu (30/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Prof. Dwikorita menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa dimulai dari rumah tangga, termasuk memastikan bangunan aman, menyiapkan jalur evakuasi, dan latihan bersama warga secara rutin.
  • Dwikorita mengingatkan bahwa ancaman gempa bisa berasal dari megathrust maupun patahan darat, sehingga masyarakat perlu menyiapkan skenario terburuk sebagai dasar latihan mitigasi bencana.
  • Pakar UGM Gayatri Indah Marliyani menyoroti pentingnya menjaga ingatan kolektif atas Gempa Yogyakarta 2006 agar kesadaran mitigasi tetap hidup di tengah generasi muda yang belum mengalami peristiwa tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi menjadi hal paling penting untuk meminimalisir korban saat bencana terjadi. Ingatan kolektif masyarakat terhadap gempa besar Yogyakarta 2006 dinilai perlu terus dijaga sebagai pengingat pentingnya mitigasi dan latihan kebencanaan.

Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwikorita Karnawati, mengatakan masyarakat perlu membangun kesiapan agar tidak panik ketika gempa maupun tsunami terjadi.

“Antisipasi yang penting itu satu, jangan panik. Agar tidak panik gimana caranya? Siap-siap kalau nanti terjadi gempa, kalau terjadi tsunami,” ujar Dwikorita usai Seminar Sinergi UGM-Kagama 20 Tahun Gempa Yogya 2006 & Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di Gedung Pusat UGM, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Dwikorita, ancaman gempa tidak hanya berasal dari potensi megathrust, tetapi juga dari patahan aktif di daratan yang justru lebih dekat dengan permukiman warga. “Tidak peduli megathrust atau tidak. Gempa akibat patahan yang ada di darat juga berbahaya karena patahannya lebih dekat,” katanya.

1. Kesiapsiagaan dari lingkungan terkecil

Gempa Jogja 2006 (commons.wikimedia.org/NoiX180)

Dwikorita menekankan kesiapan perlu dimulai dari lingkungan rumah tangga, seperti memastikan bangunan cukup aman, menata perabot agar tidak membahayakan saat gempa, hingga menyiapkan jalur evakuasi.

Dwikorita menyarankan masyarakat mengenali titik perlindungan sementara di dalam rumah, misalnya meja makan atau meja belajar yang kuat. Selain itu, jalur evakuasi dan titik kumpul juga harus dipersiapkan secara kolektif bersama warga di tingkat RT dan RW. “Jalur evakuasi, peta evakuasi, titik kumpul harus disiapkan sebelum kejadian. Tidak bisa individu, harus kolektif,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya tas siaga bencana dan latihan evakuasi secara berkala, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir rawan tsunami. Menurutnya, rambu evakuasi yang telah dipasang pemerintah juga harus dirawat bersama agar tetap berfungsi ketika dibutuhkan.

“Harus koordinasi gotong royong dengan tetangga sekitar, dengan RW, RT, dan BPBD. Kalau biasa dilatih, kita tidak panik banget,” katanya.

Dwikorita mengatakan masyarakat yang berolahraga lari bisa saja sembari menjajal jalur evakuasi. Upaya tersebut untuk mengukur kesiapan diri menghadapi kemungkinan tsunami. “Misalnya waktu datangnya tsunami 20 menit, kita lari dari rumah ke jalur evakuasi itu sudah sampai belum? Jadi perlu latihan seperti itu,” ujarnya.

2. Soal potensi gempa megathrust

Gempa Jogja 2006 (commons.wikimedia.org/NoiX180)

Terkait potensi gempa megathrust, Dwikorita mengatakan potensi pasti ada. Namun, ia menilai yang paling penting bukan memperdebatkan besarnya probabilitas gempa, melainkan menyiapkan skenario terburuk sebagai dasar latihan mitigasi.

“Nah kalau itu kan angka itu kita sulit untuk membahas ya. Jadi sebetulnya yang ingin kita angkat itu bukan kepastian berapa besar potensi atau probabilitasnya. Tidak, tapi bagaimana menyiapkan suatu skenario sebagai dasar untuk kita berlatih sebelum kejadian,” kata Dwikorita.

Ia mencontohkan Jepang yang sebelum tsunami besar 2011 telah melakukan latihan, namun menggunakan skenario yang dianggap paling mungkin terjadi, bukan skenario terburuk. Akibatnya, gelombang tsunami melampaui tembok penahan yang telah dibangun.

“Kenapa latihannya kondisi terburuk? Agar kita siap menghadapi kondisi paling buruk. Kalau ternyata tidak terjadi, kan tidak rugi,” kata Dwikorita.

3. Ingatan kolektif jadi bagian penting

Gempa Jogja 2006 (commons.wikimedia.org/NoiX180)

Pakar Kegempaan UGM, Gayatri Indah Marliyani, menyinggung soal ingatan kolektif Gempa Yogyakarta 2006. Berdasar pengalamannya saat bertanya kepada mahasiswa ingatan kolektif soal gempa itu tidak ada, karena gempa tersebut terjadi sebelum mereka lahir. Menurutnya menjaga memori kolektif masyarakat terhadap bencana menjadi bagian penting.

“Saat gempa 2006 terjadi, banyak warga terkejut karena tidak menyangka Yogyakarta dapat mengalami bencana besar dengan korban jiwa dan kerusakan yang begitu luas. Pada masa itu, informasi kebencanaan masih terbatas, sistem komunikasi belum berkembang seperti sekarang, dan pemahaman masyarakat mengenai risiko gempa masih rendah,” ucapnya.

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM itu mengatakan dengan berubahnya situasi saat ini, dengan perkembangan teknologi hingga penelitian geologi yang terus berkembang, semestinya pengetahuan masyarakat semakin meningkat. Namun, menurunnya kesadaran karena jarak waktu yang jauh dari peristiwa menjadi tantangan tersendiri.

Lebih lagi, DIY berada di wilayah yang memiliki sumber ancaman gempa sekaligus, baik dari sesar aktif di daratan maupun zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Aktivitas kegempaan di Jawa juga tergolong tinggi. Data selama sebelas tahun terakhir menunjukkan banyaknya kejadian gempa, baik gempa dangkal maupun gempa yang terjadi pada kedalaman lebih besar.

DIY memiliki kluster gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Aktivitas yang ada menunjukkan sumber gempa di kawasan tersebut masih aktif bergerak dan menjadi zona megathrust di Selatan Jawa, meski sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa besar akan terjadi.

Gayatri mengatakan yang dapat dilakukan ilmuwan mengidentifikasi sumber gempa, memperkirakan potensi magnitudo, serta memetakan dampak yang mungkin ditimbulkan. Senada dengan Dwikorita ia juga menegaskan masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap isu megathrust.

“Fokus utama bukan pada pertanyaan kapan gempa besar akan datang, melainkan apakah masyarakat sudah siap apabila peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Kesiapan mencakup berbagai aspek, mulai dari bangunan tahan gempa, jalur evakuasi yang jelas, kesiapsiagaan keluarga, hingga akses terhadap informasi yang valid dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Gayatri.

Editorial Team

Related Article