Gempa Jogja 2006 (commons.wikimedia.org/NoiX180)
Pakar Kegempaan UGM, Gayatri Indah Marliyani, menyinggung soal ingatan kolektif Gempa Yogyakarta 2006. Berdasar pengalamannya saat bertanya kepada mahasiswa ingatan kolektif soal gempa itu tidak ada, karena gempa tersebut terjadi sebelum mereka lahir. Menurutnya menjaga memori kolektif masyarakat terhadap bencana menjadi bagian penting.
“Saat gempa 2006 terjadi, banyak warga terkejut karena tidak menyangka Yogyakarta dapat mengalami bencana besar dengan korban jiwa dan kerusakan yang begitu luas. Pada masa itu, informasi kebencanaan masih terbatas, sistem komunikasi belum berkembang seperti sekarang, dan pemahaman masyarakat mengenai risiko gempa masih rendah,” ucapnya.
Dosen Departemen Teknik Geologi UGM itu mengatakan dengan berubahnya situasi saat ini, dengan perkembangan teknologi hingga penelitian geologi yang terus berkembang, semestinya pengetahuan masyarakat semakin meningkat. Namun, menurunnya kesadaran karena jarak waktu yang jauh dari peristiwa menjadi tantangan tersendiri.
Lebih lagi, DIY berada di wilayah yang memiliki sumber ancaman gempa sekaligus, baik dari sesar aktif di daratan maupun zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Aktivitas kegempaan di Jawa juga tergolong tinggi. Data selama sebelas tahun terakhir menunjukkan banyaknya kejadian gempa, baik gempa dangkal maupun gempa yang terjadi pada kedalaman lebih besar.
DIY memiliki kluster gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Aktivitas yang ada menunjukkan sumber gempa di kawasan tersebut masih aktif bergerak dan menjadi zona megathrust di Selatan Jawa, meski sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa besar akan terjadi.
Gayatri mengatakan yang dapat dilakukan ilmuwan mengidentifikasi sumber gempa, memperkirakan potensi magnitudo, serta memetakan dampak yang mungkin ditimbulkan. Senada dengan Dwikorita ia juga menegaskan masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap isu megathrust.
“Fokus utama bukan pada pertanyaan kapan gempa besar akan datang, melainkan apakah masyarakat sudah siap apabila peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Kesiapan mencakup berbagai aspek, mulai dari bangunan tahan gempa, jalur evakuasi yang jelas, kesiapsiagaan keluarga, hingga akses terhadap informasi yang valid dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Gayatri.