Kemenhaj DIY: Petugas Haji Harus Siap "Mencari Masalah" di Lapangan

- PPIH Arab Saudi harus siap "mencari masalah" di lapangan
- Haram hukumnya menjawab "Tidak Tahu" saat ditanya jemaah, harus siap memberikan solusi
- Puncak ibadah haji di Armuzna menjadi fokus utama
Kota Yogyakarta, IDN Times – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jauhar Mustofa, memberikan wejangan tegas kepada sejumlah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi asal DIY. Arahan ini disampaikan saat menerima kunjungan silaturahmi para petugas di Kantor Wilayah Kemenhaj DIY, Jumat (13/2/2026).
Jauhar mengingatkan bahwa tugas PPIH di Arab Saudi bukan sekadar menjalankan fungsi spesifik sesuai divisi, melainkan menjadi pelayan tamu Allah secara menyeluruh. Ia bahkan menggunakan istilah bahasa Jawa, "golek molo" (mencari masalah/kerepotan), untuk menggambarkan esensi tugas di lapangan.
"Ketika Anda sudah memakai rompi petugas, keluar dari hotel, keluar dari markas, sesungguhnya Anda itu golek molo. Potensi masalah sangat banyak di luar, maka Anda harus siap menghadapi dan memberikan solusi," tegas Jauhar di hadapan para petugas.
1. Haram hukumnya menjawab "Tidak Tahu"

Dalam arahannya, Jauhar membedah struktur wilayah tugas PPIH Arab Saudi yang terbagi menjadi tiga Daerah Kerja (Daker): Bandara, Makkah, dan Madinah. Setiap petugas, kata Jauhar, wajib memahami Tugas dan Fungsi (Tusi) utamanya, baik di bidang transportasi, akomodasi, maupun konsumsi. Namun, ia menekankan bahwa sekat-sekat divisi tersebut harus runtuh ketika berhadapan langsung dengan jemaah yang membutuhkan pertolongan.
"Siapkan empat ruang dalam diri Anda: antisipasi, mitigasi, dan dua ruang sisanya adalah solusi dan solusi. Haram hukumnya bagi petugas ketika ditanya jemaah menjawab tidak tahu," Jauhar mengingatkan.
Ia melarang keras petugas berdalih dengan alasan bukan bidang tugasnya, seperti mengatakan, "Saya tidak paham karena tugas saya konsumsi," atau "Tugas saya di akomodasi".
"Ketika sudah mengenakan rompi, Anda adalah petugas haji Indonesia. Siapapun yang butuh bantuan, wajib hukumnya diberikan pertolongan. Tidak boleh juga hanya mengandalkan sentimen kedaerahan, misalnya hanya mau melayani jemaah dari Jogja," tambahnya.
2. Belajar dari pengalaman di Masjidil Haram

Untuk memperkuat pesannya, Jauhar membagikan pengalamannya saat bertugas di Tanah Suci. Ia menceritakan momen ketika melihat seorang petugas PPIH yang tidak mampu memberikan solusi saat dimintai bantuan oleh jemaah.
"Lama saya amati dari sekitar Masjidil Haram itu. Sudah sekitar dua jam petugas itu ditunggui jemaah, dan dia malah mencari-cari bantuan ke petugas lain. Akhirnya saya hampiri, saya selesaikan masalahnya, lalu saya tanya asalnya, ternyata dari Jombang. Ya sudah, saya catat saja (sebagai evaluasi)," kenang Jauhar.
Dari kejadian tersebut, Jauhar menuntut agar setiap petugas PPIH membiasakan diri "belanja masalah" dan memikirkan solusinya sejak dini, jauh sebelum diterbangkan ke Arab Saudi.
3. Fokus puncak Haji di Armuzna

Selain layanan operasional sehari-hari di hotel dan sektor, Jauhar juga menyoroti fase krusial saat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Pada fase ini, seluruh petugas akan berstatus Bawah Kendali Operasi (BKO). Skema umumnya, petugas Daker Bandara akan digeser ke Arafah, petugas Daker Makkah akan difokuskan di Muzdalifah, dan petugas Daker Madinah akan bertanggung jawab mengawal jemaah di Mina (area Jamarat).
"Inilah penugasan-penugasan yang akan jenengan (Anda) alami. Semua dalam rangka memperlancar layanan untuk jemaah. Selamat menjalankan tugas yang sangat mulia ini," pungkas Jauhar.
















