Yogyakarta, IDN Times - Kasus demam berdarah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat pada awal tahun 2024. Kenaikan kasus bahkan masuk kategori cukup signifikan di beberapa wilayah DIY.

Yogyakarta, IDN Times - Kasus demam berdarah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat pada awal tahun 2024. Kenaikan kasus bahkan masuk kategori cukup signifikan di beberapa wilayah DIY.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY Setiyo Harini memaparkan, berdasarkan hasil pencermatan, terjadi kasus dengan jumlah cukup signifikan.
Berikut data kasus demam berdarah di kabupaten/kota di DIY:
Secara persentase, kenaikan kasus demam berdarah saat ini naik dibanding tahun 2023. Secara angka hingga bulan Maret, jumlah kasus di beberapa wilayah mencapai dua hingga tiga kali lipat peningkatanya.
Rini melanjutkan, untuk penanganan di Kota Yogyakarta dan Kulon Progo diklaim masih terkendali, karena belum ditemukan kasus keparahan atau kematian.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan untuk Kabupaten Sleman dan Bantul, berkaca dari jumlah kasus demam berdarah. Terlebih Gunungkidul, terdapat dua orang meninggal dunia. "Harapan kami dengan adanya peningkatan ini tetap bisa terkendali," ucap Rini.
Dinkes mensinyalir, kenaikan kasus demam berdarah dipicu tingginya curah hujan dan cuaca yang berubah-ubah di awal tahun 2024.
Hujan dan pancaroba menjadi paduan faktor kenaikan kasus DBD. Nyamuk bisa bertelur di genangan air. Saat kemarau tiba, telur tetap bisa menempel di permukaan tanah atau dinding. Di saat terkena air masih bisa menetas.
Bukan cuma itu, menurut Rini, kenaikan kasus ditengarai kelengahan masyarakat yang kini perlu diingatkan lagi cara preventifnya. Termasuk menghidupkan gerakan PSN 3 M Plus.
"Jadi memang harus diwaspadai bukan hanya air yang di bak mandi dan penampungan air yang ada di dalam rumah. Tapi juga di luar rumah," tutur Rini.
Sementara itu, rendahnya kasus di Kota Yogyakarta dibanding kabupaten tetangga tak lepas dari teknologi atau program nyamuk ber-wolbachia. Bahkan, berkat ini kasus menurun sampai 77 persen berdasarkan sejumlah riset.
Bahkan, dari total 45 kasus saat ini, kata Rini, tak ada yang masuk kategori parah karena nyamuk ber-wolbachia berperan mengurangi risiko demam berdarah.
Rini mengungkapkan usia yang mendominasi pasien demam berdarah adalah kategori usia produktif. Baginya, ini sudah cukup menunjukkan kemajuan.
"Dulu kan anak-anak di sekolah. Tapi sekarang sudah cukup bagus kebersihan sekolah," imbuhnya.
Sementara untuk kasus kematian di Gunungkidul, perlu audit guna mencari penyebabnya. Secara teori, kematian bisa terjadi akibat keterlambatan penanganan, pasien mempunyai penyakit lain, atau daya tahan tubuh rendah.
"Ditentukan juga kecepatan rujukan, penanganan, tata laksana yang ada di rumah sakit yang bisa mencegah kematian dan keparahan," tutur Rini.