Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ini Faktor yang Bikin Kamu Susah Nabung Menurut Dosen UMY!
ilustrasi menabung (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Dosen UMY, Satria Utama, menjelaskan bahwa kesulitan menabung sering dialami masyarakat kelas menengah karena pendapatan habis untuk kebutuhan dan menabung tidak menjadi prioritas utama.
  • Ia menyoroti fenomena lifestyle inflation, di mana kenaikan penghasilan justru diikuti peningkatan konsumsi sehingga kemampuan menabung tidak banyak berubah meski kondisi finansial membaik.
  • Satria menekankan pentingnya tujuan keuangan yang jelas, disiplin mengatur pengeluaran, serta menjadikan tabungan sebagai prioritas sejak awal agar kebiasaan menabung dapat terbentuk secara konsisten.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Meski sudah memiliki penghasilan tetap, tidak sedikit orang yang masih kesulitan menabung. Pendapatan yang diterima kerap habis untuk berbagai kebutuhan sehingga tidak ada dana yang tersisa untuk disimpan. Kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh besarnya penghasilan, melainkan sering kali berkaitan dengan cara mengelola keuangan.

Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, menyebut kesulitan menabung merupakan persoalan yang umum terjadi, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah.

“Permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan. Mereka menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ujarnya, Selasa (23/6/2026), dikutip dari laman resmi UMY.

Jerat lifestyle inflation

Satria mengatakan, kesulitan menabung tidak selalu dipengaruhi oleh besar kecilnya penghasilan. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut berkaitan dengan perilaku keuangan yang kurang sehat. Saat pendapatan meningkat, sebagian orang justru ikut menaikkan gaya hidup dan pengeluarannya.

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu kondisi ketika kenaikan pendapatan diikuti dengan peningkatan konsumsi. Akibatnya, kemampuan menabung tidak banyak berubah meskipun kondisi keuangan sebenarnya membaik.

“Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung. Permasalahannya bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi. Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” jelas Satria.

Perlu ada tujuan keuangan yang jelas

ilustrasi menabung emas untuk investasi jangka panjang (pexels.com/Robert Lens)

Selain perilaku konsumsi, Satria menilai tujuan keuangan yang jelas juga berperan penting dalam membangun kebiasaan menabung. Menurutnya, masih banyak orang yang menabung hanya karena dianggap sebagai kebiasaan baik, tanpa memiliki target yang spesifik dan terukur. Padahal, tujuan yang jelas dapat menjadi pendorong untuk lebih disiplin mengelola keuangan.

“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi. Mereka akan mudah berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.

Satria juga menyoroti minimnya perlindungan keuangan yang dimiliki sebagian masyarakat. Kondisi ini membuat tabungan kerap digunakan untuk menutup kebutuhan tak terduga, seperti biaya pengobatan atau perbaikan kendaraan. Akibatnya, dana yang telah terkumpul berkurang, bahkan bisa habis sama sekali.

Menabung harus jadi prioritas

Satria menilai bahwa kemampuan mengelola dan melindungi pendapatan sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang. Karena itu, tabungan perlu dipandang sebagai kebutuhan masa depan yang harus diprioritaskan.

“Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa. Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit terwujud. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal. Jangan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” tegasnya.

Ia menambahkan, disiplin dalam mengatur keuangan menjadi faktor utama untuk membangun kebiasaan menabung. Selain menetapkan tujuan keuangan yang jelas, seseorang juga perlu mengendalikan gaya hidup agar pengeluaran tetap sesuai prioritas.

“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” pungkas Satria.

Editorial Team

Related Article