Ilustrasi pemudik (ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar)
Djoko menjelaskan, pemakaian sepeda motor bermuatan penuh berisiko saat di jalan. Menurut dia, sepeda motor adalah alat transportasi paling rentan karena tubuh tak dilindungi bagian kendaraan tersebut.
Berbeda halnya dengan memakai mobil atau kendaraan lain, tubuh lebih terlindungi apabila terjadi kecelakaan di jalan.
Oleh karenanya, ketimbang memakai sepeda motor dia menyarankan agar masyarakat mengikuti program mudik gratis yang kini tidak hanya diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan, juga oleh kementerian dan lembaga lain, BUMN, namun juga perusahaan swasta.
"Penggunaan sepeda motor saat mudik lebaran rentan mengalami kecelakaan lalu lintas. Sepeda motor tidak dirancang untuk perjalanan jarak jauh. Sepeda motor dibatasi jumlah penumpang dan barang bawaan. Penumpang dibatasi maksimum dua orang dan barang yang dibawa tidak melebihi setang," paparnya.
Memperhatikan kapasitas sepeda motor, mempersiapkan kondisi tubuh, serta menerapkan disiplin berkendara di jalan merupakan tiga aspek penting masyarakat dalam melakukan perjalanan mudik.
Menimbang perjalanan mudik cukup jauh dan memakan waktu lama, kondisi motor yang tidak diservis atau dirawat tentu saja lebih rawan mengalami masalah di jalan.
Penggunaan sepeda motor saat mudik Lebaran, kata Djoko, bagaimanapun masih menjadi pilihan bagi pemudik untuk pulang ke kampung halaman. Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, jutaan sepeda motor digunakan untuk mudik setiap tahun.
Sementara, Hasil Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menyebutkan pada 2023 ada potensi 25,13 juta unit sepeda motor yang dapakai untuk mudik lebaran. Ini menjadi pilihan kedua paling banyak setelah mobil pribadi 27,32 juta unit berdasarkan hasil survei.
"Pilihan masyarakat untuk mudik menggunakan sepeda motor karena keterbatasan biaya dan minim layanan transportasi umum. Pasalnya, layanan transportasi umum di daerah sudah semakin buruk. Mudik dengan sepeda motor tidak dianjurkan pemerintah," ujarnya.