CEO Pura Nusantara, Brian Tobing, menjelaskan bahwa YDSI dirancang sebagai wadah kolaborasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.
"Edukasi menjadi tulang punggung komunitas dan negara kita. Kami ingin membangun platform kolaborasi yang menghubungkan berbagai pihak dari luar negeri maupun dari DIY sendiri," kata Brian.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi akses terhadap teknologi, melainkan kesiapan manusia dalam memanfaatkannya. Karena itu, YDSI diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan potensi Yogyakarta dengan berbagai peluang dan perkembangan teknologi di tingkat global.
"Jogja memiliki talenta dan institusi yang kuat, dan kami ingin menghubungkannya dengan dunia. Kami membuat ruang kolaborasi yang sesuai dengan karakter masyarakat kita," ujarnya.
Sebagai implementasi awal semangat YDSI, digelar AI Teaching Power DIY yang menghadirkan pelatihan pemanfaatan AI bagi para tenaga pendidik. Program hasil kolaborasi Pura Nusantara, Solana, Microsoft Elevate, Kadin DIY, dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY itu memperkenalkan berbagai teknologi AI yang dapat membantu proses pembelajaran sekaligus mengurangi beban administratif guru.
Brian mengatakan, para peserta juga mendapatkan akses pembelajaran serta fasilitas pendukung dari Microsoft Elevate untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai pemanfaatan AI di lingkungan sekolah.
Ia menegaskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran guru maupun mengubah kurikulum yang selama ini telah berjalan baik. Teknologi tersebut justru diharapkan menjadi alat bantu yang dapat mempercepat pengelolaan data dan pekerjaan rutin sehingga tenaga pendidik dapat lebih fokus pada proses belajar mengajar.
"AI ini hadir sebagai solusi budaya kerja. Kita ingin guru-guru tidak lagi terjebak dan dipusingkan oleh urusan administratif yang menumpuk. Biarkan sistem yang mempercepat itu, sehingga guru bisa kembali fokus pada tugas intinya, yaitu mendidik dengan hati untuk murid dan generasi masa depan," tegasnya.
"Kami ingin para guru terbiasa menggunakan AI dari ruang kelas. Agar para guru bisa terus mengikuti perkembangan zaman dan lebih banyak memikirkan cara memaksimalkan potensi serta mimpi anak-anak di kelas daripada disibukkan pekerjaan repetitif yang menyita waktu," kata Brian.