Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gunung Anak Krakatau Erupsi , Sri Sultan Bagi Tips Tangani Abu Vulkanik
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

  • Sri Sultan HB X mengingatkan dampak abu Anak Krakatau dipengaruhi angin; warga disarankan memakai masker karena partikel vulkanik dapat beterbangan, terhirup, dan bersifat tajam.
  • Sultan meminta warga tidak sembarangan membersihkan abu di genteng, terutama saat hujan, karena material basah dapat memadat, membuat permukaan licin, dan meningkatkan risiko terpeleset.
  • Gunung Merapi tetap berstatus Level III Siaga; BPPTKG melarang aktivitas di zona bahaya serta mengingatkan potensi guguran lava, awan panas, lahar, dan lontaran material hingga 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Imbauan tersebut disampaikan Sultan dengan berkaca pada pengalaman saat warga Jogja menghadapi abu vulkanik erupsi gunung api.

Sultan berbagi pengalaman tentang penanganan sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut dinilai Sultan tetap perlu diwaspadai, mengingat sebaran abu sangat dipengaruhi kondisi angin.

1. Belajar dari pengalaman Jogja saat hadapi abu vulkanik

Penampakan mikroskopis abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dok. BPBD Lampung).

Sultan menilai pengalaman Jogja saat menghadapi erupsi gunung api menjadi pelajaran penting dalam menghadapi potensi paparan abu vulkanik. Masyarakat perlu memahami bahwa abu vulkanik memiliki karakter berbeda dengan material seperti pasir yang relatif mudah dibersihkan.

Menurut Sultan, material vulkanik dapat beterbangan kembali sehingga berpotensi terhirup. Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko paparan. "Itu kan mengandung material yang berbahaya, yang tajam gitu loh. Jadi sekarang lebih baik memang pakai masker," ujar Sultan, Senin (7/9/2026).

2. Sultan ingatkan bahaya membersihkan abu di genteng

Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)

Sultan juga menyoroti cara masyarakat membersihkan abu vulkanik yang menempel di rumah, khususnya di bagian genteng. Ia mengingatkan agar tidak sembarangan membersihkan material tersebut karena abu yang ringan dapat beterbangan.

Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat menjadi lebih berbahaya apabila abu vulkanik terkena hujan. Material yang basah bisa menjadi lebih padat dan membuat permukaan genteng licin. "Kalau nunggu hujan malah jadi seperti beton tapi licin. Saya khawatir nanti yang tidak punya pengalaman membersihkannya pakai sapu, naik di genteng malah bisa kepleset, apalagi kalau hujan akan licin," kata Sultan.

Pengalaman tersebut, menurut Sultan, penting diperhatikan masyarakat di daerah yang berpotensi terdampak. Pembersihan abu vulkanik tidak bisa disamakan dengan membersihkan pasir biasa yang cukup disapu hingga hilang. "Kalau pasir terus disapu hilang, tapi kalau (abu vulkanik) tidak seperti itu," ujarnya.

3. Status Gunung Merapi siaga

Tempat wisata Bunker Kaliadem di Kaki Gunung Merapi, Sleman. (IDN Times/Febriana Sinta)

Dalam kesempatan yang sama, saat disinggung kondisi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan mengatakan dalam dua sampai tiga tahun ini memang dalam status Siaga. Ia berharap tidak ada kenaikan status Gunung Merapi. “Tapi ya harapan saya ya Siaga saja,” ungkap Sultan.

Sementara Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga berdasarkan periode pengamatan Senin (7/9/2026) pukul 12.00-18.00 WIB. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya.

BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas guguran (APG), terutama di sektor selatan-barat daya dan tenggara Gunung Merapi. Potensi bahaya tersebut dapat menjangkau sejumlah sungai yang berhulu di Merapi.

Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

BPPTKG mengimbau masyarakat tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya. Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi. BPPTKG akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi dan melakukan peninjauan kembali terhadap status aktivitas apabila terjadi perubahan yang signifikan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article