Tempat wisata Bunker Kaliadem di Kaki Gunung Merapi, Sleman. (IDN Times/Febriana Sinta)
Dalam kesempatan yang sama, saat disinggung kondisi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan mengatakan dalam dua sampai tiga tahun ini memang dalam status Siaga. Ia berharap tidak ada kenaikan status Gunung Merapi. “Tapi ya harapan saya ya Siaga saja,” ungkap Sultan.
Sementara Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga berdasarkan periode pengamatan Senin (7/9/2026) pukul 12.00-18.00 WIB. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya.
BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas guguran (APG), terutama di sektor selatan-barat daya dan tenggara Gunung Merapi. Potensi bahaya tersebut dapat menjangkau sejumlah sungai yang berhulu di Merapi.
Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
BPPTKG mengimbau masyarakat tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya. Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi. BPPTKG akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi dan melakukan peninjauan kembali terhadap status aktivitas apabila terjadi perubahan yang signifikan.