Forum Fasilitasi Produksi Migas (FFPM) Indonesia, di Hotel Marriot pada Selasa (29/8/2023). (Dok. Istimewa)
Tema FFPM 2023 juga sejalan dengan tuntutan global dalam melaksanakan transisi energi yang berorientasi pada bisnis yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Terkait hal itu, pemerintah, badan usaha, dan perusahaan dihadapkan pada tantangan yang disebut dengan Konsep Trilemma Energi. Terdiri dari tiga indikator pokok, yaitu keamanan energi (energy security), ekuitas energi (energy equity), dan keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability).
“Energy security berkaitan dengan bagaimana kita memenuhi kebutuhan energi nasional. Energy equity bagaimana dalam menjalankan bisnis investasi yang dikeluarkan harus optimal, serta tidak kalah penting dalam menjaga daya beli masyarakat melalui produk yang affordable yang ketiga, enviromental sustainability," ungkap Ketua Ikatan Ahli Fasilitasi Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), Taufik Adityawarman.
"Ketiga aspek tersebut memiliki fokus yang berbeda sebagai para praktisi pelaku bisnis dan pemangku kepentingan untuk dapat bersama-sama menemukan titik keseimbangan sehingga tujuan bersama dapat tercapai secara optimal dan dapat tercipta bisnis Migas yang berkelanjutan khususnya yang berkaitan dengan lingkungan dan zero emission,” tambahnya.
FFPM 2023 diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan langkah-langkah nyata menuju energi berkelanjutan. Acara berlangsung selama 3 hari dengan menghadirkan beragam narasumber dan praktisi, terutama yang berfokus pada fasilitas produksi Migas.
Selain itu, acara ini juga menampilkan Inovation Award untuk pertama kalinya, yang diharapkan akan memberikan wawasan baru dan semangat baru dalam mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.