Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fasilitas Physical Distancing di Malioboro Malah Dirusak
Tali penanda physical distancing di kawasan Malioboro. IDN Times/Tunggul Damarjati

Yogyakarta, IDN Times - Sebagian masyarakat belum seirama dengan pemerintah dalam upaya menekan penyebaran COVID-19 di kawasan publik.

Perusakan fasilitas pendukung physical distancing atau penjarakan fisik di kawasan Malioboro adalah salah satu bukti nyata.

1. Tali penanda physical distancing malah diduduki

Pengunjung Malioboro duduk di salah satu bangku dengan penanda physical distancing. IDN Times/Tunggul Damarjati

Pemerintah Kota Yogyakarta sejak masa pandemi COVID-19 telah memasang tali sekat penanda physical distancing di beberapa bangku sepanjang area Malioboro.

Sekat tersebut dipakai sebagai penanda supaya sebagian sisi bangku tak lantas diduduki, agar pengunjung satu dengan yang lain tak terlampau dekat atau tetap berjarak.

Namun usaha Pemkot tak selamanya mulus. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro seringkali menemukan bangku yang sudah ditandai tadi, diduduki.

"Nuwun sewu, kalau orang pacaran itu ada. Sudah tahu ditutup (tali), didudukin," ungkap Kepala UPT Malioboro Ekwanto saat ditemui di depan Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Kamis (11/6).

2. Tali juga disulut rokok

Tali penanda physical distancing terpasang pada bangku di kawasan Malioboro. IDN Times/Tunggul Damarjati

Akibatnya, tali penanda berbahan rafia itu pun rusak. Pihaknya kemudian beralih ke tali tambang plastik dengan harapan lebih kuat.

Tapi, lagi-lagi pihaknya harus menelan kekecewaan.

"Pertama rafia, nggak bertahan lama dijebol semua, kami ganti yang tali seperti ini, itu pun rusak disunduk (disulut) rokok," bebernya.

3. Fasilitas lain juga dirusak

Kepala UPT Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Ekwanto. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Ekwanto tambah mengelus dada, karena ini bukan kali pertama pengunjung berbuat semena-mena. Sebelumnya, pihaknya juga sering mendapati tempat sampah yang jebol akibat dikira tempat duduk.

Lalu, keran air siap minum juga tak terawat akibat dikira tempat cuci tangan. Lebih parahnya disangka asbak.

"Itu (keran air siap minum) kan ada di beberapa titik. Itu wisatawan ya mungkin saudara-saudara kita yang belum mengenal teknologi dengan baik, di luar negeri sudah biasa kan," katanya.

"Sementara petugas kami enggak mungkin terus-terusan nungguin, tapi tetap akan kami edukasi," tutup Ekwanto.

Editorial Team

Related Article