juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Penularan Infeksi COVID-19 Pemkab Bantul, dr. Sri Joko Nugroho (kiri). IDN Times/Daruwaskita
Sementara juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Infeksi COVID-19 Pemkab Bantul, Sri Wahyu Joko Santosa mengatakan hal yang lebih penting dilakukan masyarakat bukanlah melakukan "lockdown" wilayah. Namun, memastikan agar pendatang atau pemudik yang tiba di wilayahnya untuk segera melapor ke RT atau Kepala Dusun setempat. Kemudian, agar mereka melakukan isolasi diri, bukan justru keluyuran atau main ke tempat tetangga atau saudara.
"Kalau ada gejala sakit segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya. Saat ini penularan COVID-19 di Bantul lebih banyak karena imported case," tuturnya.
Dr. Oki, sapaan Sri Wahyu Joko Santosa, mengatakan penularan COVID-19 ini tidak melalui udara namun melalui droplet atau cipratan. Droplet adalah partikel yang keluar dari hidung atau mulut penderita yang besarnya lebih dari 5 mikron dan bisa terlempar sejauh 1,5 meter.
Hal ini berbeda dengan namanya aerosol. Aerosol adalah partikel yang keluar dari mulut atau hidung penderita yang besarnya kurang dari 5 mikron sehingga ketika terlempar dari mulut atau hidung pasien bisa mencapai 3-5 meter.
"Jadi COVID-19 itu tidak bisa ditularkan melalui udara namun melalui droplet yang bisa keluar dari mulut atau hidung pasien hingga 1,5 meter. Maka jaga jarak 1,5 mater harus tetap dijaga, tidak berkerumun, selalu cuci tangan dengan sabun (PHBS) serta di rumah saja jika tidak ada keperluan sangat mendesak," terangnya.