Special screening Film Baby Udon di Plaza Ambarrukmo, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Denny mengatakan, awalnya produksi Baby Udon ditargetkan selesai dalam waktu sekitar tiga bulan. Namun, pencarian pemeran Hajime membuat persiapan produksi molor hingga delapan bulan.
Rumah produksi sempat menawarkan karakter tersebut kepada sejumlah aktor papan atas. Namun, persoalan jadwal hingga tidak adanya respons dari beberapa kandidat membuat pilihan semakin terbatas.
"Kebutuhan pemainnya memang kita tidak dapat. Maka di last minute, karena sudah molor sekitar lima bulan dari yang harusnya tiga bulan jadi delapan bulan, saya tidak punya pilihan selain harus main," ujar Denny saat ditemui di sela sapa penggemar di Ambarrukmo Plaza, Senin (17/8/2026) malam.
Menurut Denny, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pemain lainnya yang sudah lebih dulu ditetapkan, termasuk Caitlin Halderman sebagai Fanny Kondoh. “Kita coba tawarkan ke beberapa nama besar di dunia aktor film kita. Secara waktu ada yang tidak bisa, ada yang bahkan tidak membalas dan tidak merespons. Jadi kita tidak punya banyak pilihan karena semuanya sudah berkumpul,” katanya.
Keterlibatan Denny dalam Baby Udon bermula ketika Fanny Kondoh mempercayakan hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) kisah hidupnya kepada rumah produksi milik Denny. Keputusan itu menjadi kesempatan bagi Denny Sumargo untuk memasuki dunia produksi film. Ia mengaku langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk keberanian untuk terus keluar dari zona nyaman.
“Aku tipe orang yang selalu bertumbuh dalam segala hal baru yang aku pelajari. Walaupun dulu dari pebasket, aku crossing jadi aktor, host, YouTuber, konten kreator, dan sekarang crossing ke film production,” tutur Denny.
Baginya, proses bertumbuh tidak sekadar mengejar keuntungan. Setiap pekerjaan baru harus memiliki nilai dan dikerjakan dengan ketulusan. “Orang kalau ingin bertumbuh harus berani keluar dari zona nyaman. Namun garis bawahnya adalah mengerjakannya harus selalu memakai hati. Kalau hanya mengejar profit dan keuntungan, pembelajaran yang kita dapat akhirnya jadi sia-sia, tidak punya makna,” lanjutnya.