Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Denny Sumargo Debut Jadi Produser hingga Pemeran Utama Film Baby Udon
Special screening Film Baby Udon di Plaza Ambarrukmo, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Denny Sumargo debut sebagai produser melalui Baby Udon, produksi Sumargo Film dan Litto Production yang disutradarai Fajar Bustomi serta dijadwalkan tayang 3 September 2026.
  • Denny juga memerankan Hajime Kondoh setelah pencarian aktor utama tertunda lima bulan akibat kendala jadwal dan respons kandidat, membuat persiapan produksi berlangsung delapan bulan.
  • Baby Udon mengangkat perjuangan Fanny dan mendiang Hajime Kondoh memperoleh anak lewat IVF, lalu perjalanan Fanny merawat putra mereka setelah Hajime meninggal akibat kanker.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Kreator konten sekaligus mantan pebasket Denny Sumargo menandai langkah baru di industri perfilman dengan menjajal peran sebagai produser film, Baby Udon.

Film yang diproduksi Sumargo Film bersama Litto Production disutradarai Fajar, dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis (3/9/2026). Tak hanya berada di balik layar, Denny ikut berakting sebagai Hajime Kondoh, karakter utama pria film tersebut. Keputusan itu diambil setelah proses pencarian pemeran Hajime mengalami penundaan hingga lima bulan.

1. Denny Sumargo jadi pemeran utama karena pencarian aktor molor

Special screening Film Baby Udon di Plaza Ambarrukmo, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Denny mengatakan, awalnya produksi Baby Udon ditargetkan selesai dalam waktu sekitar tiga bulan. Namun, pencarian pemeran Hajime membuat persiapan produksi molor hingga delapan bulan.

Rumah produksi sempat menawarkan karakter tersebut kepada sejumlah aktor papan atas. Namun, persoalan jadwal hingga tidak adanya respons dari beberapa kandidat membuat pilihan semakin terbatas.

"Kebutuhan pemainnya memang kita tidak dapat. Maka di last minute, karena sudah molor sekitar lima bulan dari yang harusnya tiga bulan jadi delapan bulan, saya tidak punya pilihan selain harus main," ujar Denny saat ditemui di sela sapa penggemar di Ambarrukmo Plaza, Senin (17/8/2026) malam.

Menurut Denny, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pemain lainnya yang sudah lebih dulu ditetapkan, termasuk Caitlin Halderman sebagai Fanny Kondoh. “Kita coba tawarkan ke beberapa nama besar di dunia aktor film kita. Secara waktu ada yang tidak bisa, ada yang bahkan tidak membalas dan tidak merespons. Jadi kita tidak punya banyak pilihan karena semuanya sudah berkumpul,” katanya.

Keterlibatan Denny dalam Baby Udon bermula ketika Fanny Kondoh mempercayakan hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) kisah hidupnya kepada rumah produksi milik Denny. Keputusan itu menjadi kesempatan bagi Denny Sumargo untuk memasuki dunia produksi film. Ia mengaku langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk keberanian untuk terus keluar dari zona nyaman.

“Aku tipe orang yang selalu bertumbuh dalam segala hal baru yang aku pelajari. Walaupun dulu dari pebasket, aku crossing jadi aktor, host, YouTuber, konten kreator, dan sekarang crossing ke film production,” tutur Denny.

Baginya, proses bertumbuh tidak sekadar mengejar keuntungan. Setiap pekerjaan baru harus memiliki nilai dan dikerjakan dengan ketulusan. “Orang kalau ingin bertumbuh harus berani keluar dari zona nyaman. Namun garis bawahnya adalah mengerjakannya harus selalu memakai hati. Kalau hanya mengejar profit dan keuntungan, pembelajaran yang kita dapat akhirnya jadi sia-sia, tidak punya makna,” lanjutnya.

2. Caitlin Halderman observasi langsung Fanny Kondoh

Special screening Film Baby Udon di Plaza Ambarrukmo, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Caitlin Halderman yang memerankan Fanny Kondoh melakukan pendalaman karakter dengan mengamati langsung sosok Fanny. Salah satu tantangan yang dihadapi Caitlin adalah membawakan dialek khas Fanny. Ia mengaku cukup terbantu karena dapat berinteraksi dan mendengarkan langsung cara Fanny berbicara.

“Medok-medoknya ini sebenarnya aku tidak belajar banyak, aku observasi saja. Aku lumayan gampang meniru aksen dan cara berbicara orang, lumayan gampang menangkap,” ungkap Caitlin.

Ia kemudian memperhatikan secara langsung intonasi, aksen, hingga gaya bicara Fanny untuk diterapkan dalam film. “Karena ngobrol sama Kak Fanny, aku perhatikan medoknya seberapa dan cara ngomongnya bagaimana. Lebih ke situ sih, mendengarkan lalu mencontohkan,” sambungnya.

3. Angkat perjuangan Fanny mendapatkan buah hati

Special screening Film Baby Udon di Plaza Ambarrukmo, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Baby Udon mengadaptasi perjalanan emosional Fanny Kondoh dan mendiang Hajime Kondoh dalam memperjuangkan kehadiran buah hati melalui program in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. Perjuangan tersebut tidak berjalan mudah. Di tengah proses mendapatkan buah hati, Hajime didiagnosis mengidap kanker hingga akhirnya meninggal dunia.

Film ini kemudian membawa kisah Fanny dalam menjalani kehidupan sekaligus merawat putranya, Kazuki Musa Kondoh. Bagi Fanny, kisah tersebut bukan hanya diangkat menjadi film, tetapi juga menjadi peninggalan untuk sang anak. “Film ini adalah legacy buat anak saya. Namun tidak cuma itu, ini adalah mahakarya yang dibuat Ko Densu, Litto, dan seluruh pemeran,” ujar Fanny.

Menurut Fanny, cerita Baby Udon diharapkan dapat menjangkau penonton dengan pengalaman hidup yang beragam, mulai dari mereka yang sedang menjalani program kehamilan, berjuang melawan kanker, hingga menghadapi trauma dalam hubungan. “Film ini bisa masuk ke banyak segmen, dari pejuang dua garis, pejuang kanker, hingga yang memiliki trauma dengan pasangan. Pesan yang bisa dibawa pulang adalah harapan,” katanya.

Curated For You

Editorial Team