Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Api Misterius di Seyegan Sleman, Tim UPN Temukan Sumber Gas Metana di Sungai
Pengecekan lokasi titik api di rumah warga di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman Sabtu (30/5/2026). (Dok. Istimewa)
  • Tim FTME UPN Yogyakarta menemukan indikasi kuat gas metana sebagai penyebab munculnya api misterius di rumah warga Seyegan, dengan sumber gas berasal dari sungai sekitar 300 meter.

  • Gas metana diduga bermigrasi melalui retakan batuan menuju permukiman warga, namun tekanan gas rendah dan kondisi kini sudah menurun tanpa gejala api baru.

  • Tim UPN menyarankan pemantauan lanjutan serta kajian geofisika untuk memetakan reservoir gas dan jalur retakannya guna memahami potensi kejadian serupa di wilayah sekitar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Universitas Pembangunan Nasional (FTME UPN) “Veteran” Yogyakarta, melakukan investigasi sumber munculnya ‘api misterius’ di rumah salah satu warga di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sabtu (30/5/2026). Dugaan awal dari hasil investigasi, ada gas metana yang memicu munculnya api.

“Kami lakukan investigasi mencari sumber daripada pemicu api. Jadi, pemicunya kami indikasikan sebagai sebuah gas yang ada di bawah permukaan,” ungkap Dekan FTME UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad.

1. Sumber gas metana diduga dari sungai

Dekan FTME UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad. (Dok. Istimewa)

Basuki bersama tim mengatakan sempat berjalan di sekitar lokasi kejadian. Sekitar 300 meter dari rumah warga tersebut terdapat sungai. Dari sungai itu muncul indikasi adanya sumber gas metana. 

“Kami lihat (di sungai) ada satu singkapan batuan. Kami amati batuan tersebut, di dalam batuan itu terlihat namanya seperti Batuan Lanau warnanya gelap. Nah, di dalam singkapan batuan ada genangan air. Kami lakukan pelan-pelan kami sisir. Kami lacak indikasi gelembung-gelembung gas. Nah, akhirnya kami ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4,” ungkap Basuki.

Basuki merinci lokasi yang ditemukan itu berada di bawah Jembatan Nepen. Tim sempat melakukan pengecekan manual dengan paralon. Gas yang ditemukan memang lemah, tapi ketika paralon itu dicabut, gas langsung menyembur di bawah air.

“Jadi artinya bahwa indikasi pertama ini karena masih indikasi awal, jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi, ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa dan ini batuannya warnanya gelap ini sebagai tempat tersimpannya gas,” jelas Basuki.

2. Gas di dalam batuan bermigrasi

Lokasi titik api di rumah warga di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sabtu (30/5/2026). (Dok. Istimewa)

Basuki juga menjelaskan bagaimana sumber gas tersebut bisa sampai ke rumah yang jaraknya sekitar 300 meter. “Jadi gas itu kan ketika di dalam batuan jenuh, dia akan terus melakukan rilis, bergerak, bermigrasi,” jelas Basuki.

Tim yang melakukan investigasi juga mendapatkan indikasi jalur-jalur semacam patahan, retakan-retakan arahnya ke utara dan terindikasi kuat migrasi ke rumah Agus yang terdapat titik api. “Sampai sekarang gas kelihatannya sudah menurun, tidak ada gejala api. Jadi, kami sampaikan mitigasinya kita tunggu saja, saran kami satu bulan,” kata Basuki. 

Basuki mengatakan setelah itu akan dilihat lagi, tim akan tetap memantau dalam beberapa pekan ke depan. “Mungkin satu minggu, dua minggu perkembangannya seperti apa. Jadi, nanti kami akan beritahukan. Tapi, intinya Insyaallah gas ini memang tidak berbahaya, dengan secara manual tekanannya rendah,” jelas Basuki.

3. Perlu kajian lebih jauh

Lokasi titik api di rumah warga di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sabtu (30/5/2026). (Dok. Istimewa)

Saat disinggung kemungkinan terjadi hal serupa di lokasi sekitar, kemungkinan tersebut menurut Basuki tetap ada. Meski begitu, menurutnya sulit diprediksi kapan waktunya. “Kalau pertanyaannya kemungkinan, semua sebuah kemungkinan. Cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu terus bermigrasi,” kata Basuki.

Basuki mengatakan untuk mengetahui lebih rinci perlu dilakukan rekaman geofisika. Melihat kondisi bawah permukaan secara besar, resevoir gas ini tersimpan. “Luasnya seberapa, tebalnya berapa, kita baru tahu. Termasuk juga kita lihat rekaman geofisika crack atau retakannya itu arahnya ke mana saja,” ungkapnya.

Editorial Team

Related Article