Kenakalan remaja di kota (pexels/ Tidos Mes)
Secara etimologis, istilah klitih berasal dari Bahasa Jawa, yaitu klitah-klitih, yang pada mulanya memiliki konotasi positif. Klitih dahulu diartikan sebagai kegiatan santai di luar rumah untuk mengisi waktu luang atau mencari angin segar, seperti jalan-jalan ringan, membaca, atau beraktivitas positif lainnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna tersebut mengalami pergeseran drastis menjadi negatif. Berdasarkan catatan sejarah, fenomena klitih dalam bentuk kenakalan remaja mulai marak sekitar tahun 2007–2009. Saat itu, pemerintah daerah memperketat kebijakan penanganan tawuran antarpelajar dengan sanksi tegas dikembalikan kepada orangtua.
Tak hanya tawuran terbuka, sebagian pelajar beralih membentuk kelompok motor, berkeliling kota, hingga akhirnya mengarah pada tindakan kriminal dan penyerangan acak.