Petugas dari Dinkes Gunungkidul mengambil sampel darah dari warga yang diduga terpapar antraks.(Dok.Polsek Gedangsari)
Dugaan kasus penyebaran antraks pada manusia mulanya diketahui setelah tiga ekor hewan ternak terdiri dari seekor sapi dan dua ekor kambing milik S, warga Dusun Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul, mati mencurigakan. Dua di antara ternak yang mati sempat disembelih sebelum dikubur. Selanjutnya S dirawat di rumah sakit karena menderita gejala mirip terpapar antraks.
S diketahui pernah membawa pulang potongan daging kambing dari salah seorang warga Sleman berinisial W. Di kediaman S, daging itu dikuliti lalu dikonsumsi bersama-sama.
Sementara W kehilangan tujuh ternaknya yang mati secara tak wajar. Enam di antaranya dibagikan dan dikonsumsi puluhan warga Kalinongko pada Februari 2024.
Alhasil, puluhan warga mengalami diare, pusing, muntah, sakit perut hingga demam usai mengonsumsi daging hewan ternak mati yang diduga terjangkit antraks.
Belakangan, BBVet Wates memastikan sapi milik S yang mati 7 Maret 2024, terpapar antraks berdasarkan uji laboratorium pada sampel darah. Demikian pula ternak milik W. Hasil didapat dengan menguji sampel tanah tempat penyembelihan.