Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Selain Tendangan Kungfu, Laga KAFI vs UAD juga Diwarnai 2 Kartu Merah

Ilustrasi kartu merah. (IDN Times/Aditya Pratama).
Ilustrasi kartu merah. (IDN Times/Aditya Pratama).
Intinya sih...
  • KAFI Jogja FC menang 1-0 dengan UAD Yogyakarta di Liga 4 DIY
  • Dwi Pilihanto dari KAFI Jogja dihukum larangan beraktivitas seumur hidup dan denda Rp1 juta
  • Pandis PSSI DIY tetap memberlakukan sanksi seumur hidup terhadap Dwi meskipun memiliki riwayat kepemimpinan yang baik
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Laga Liga 4 DIY yang mempertemukan KAFI Jogja FC vs UAD Yogyakarta di Lapangan Sitimulyo, Bantul, Selasa (6/1/2026) kemarin disebut berjalan dengan intensitas tinggi hingga diwarnai dua kartu merah untuk pemain masing-masing klub. Selain dua kartu merah, laga itu juga diwarnai insiden tendangan kungfu oleh penggawa KAFI Jogja, Dwi Pilihanto Nugroho yang berujung sanksi larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup untuk sang pemain.

"Laporan dari pengawas pertandingan menyampaikan pertandingan berjalan dengan intensitas yang tinggi dan ada beberapa kejadian yang dicatat," kata Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY, Wendi Umar Senoadji, Kamis (8/1/2026).

1. Dua kartu merah untuk masing-masing klub

Laga kemarin merupakan penentuan bagi kedua tim untuk melangkah ke partai final Liga 4 DIY yang digelar di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Minggu (18/1) mendatang. Pada akhirnya, KAFI Jogja berhasil menang dengan skor 1-0.

Hasil laporan pertandingan, gol semata wayang tercipta di menit ke-15 pada laga. Kemudian, kartu merah langsung diberikan untuk pemain KAFI Jogja pada menit ke-28. "Sehingga mungkin intensitasnya semakin tinggi di lapangan," kata Wendi.

Menurut Wendi, wasit juga mengusir salah satu pemain UAD, M. Iqbal yang mendapat kartu kuning kedua di menit ke-71. Sementara tendangan horor Dwi Pilihanto ke arah wajah pemain UAD, Amirul Muttaqin terjadi dua menit berselang.

"Penjelasan dari Dwi Pilihanto, kemarin juga sempat kami investigasi, Mas Dwi Pilihanto juga menyatakan bahwa laga tersebut tensinya sangat tinggi," beber Wendi.

Terlepas dari atmosfer pertandingan, tindakan Dwi Pilihanto itu dianggap tergolong kategori serious foul play atau pelanggaran berat.

2. Leadership kuat, tak ada riwayat gaya permainan keras

ilustrasi sepak bola
ilustrasi sepak bola (unsplash.com/Tobias Flyckt)

Panitia Disiplin (Pandis) Asprov PSSI DIY selanjutnya menyatakan Dwi Pilihanto bersalah karena dianggap telah mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengarah ke muka pemain UAD FC, Amirul Muttaqin, pada pertandingan itu.

Selain dihukum larangan beraktivitas seumur hidup di kompetisi sepak bola Indonesia, Pandis DIY juga menetapkan denda sebesar Rp1 juta kepada Dwi yang per Kamis ini dipecat oleh KAFI Jogja.

Tak hanya menjatuhi hukuman kepada pemain, Asprov PSSI DIY juga memberi sanksi kepada wasit pertandingan karena hanya memberikan kartu kuning buat Dwi Pilihanto atas insiden di menit ke-73 itu. Wasit tersebut hanya dievaluasi dan diberi pembinaan.

Asprov PSSI DIY sendiri mendapatkan riwayat pengalaman Dwi Pilihanto selama berkarir yang ternyata memiliki jiwa kepemimpinan tinggi sebagai kapten dan nihil laporan permainan keras.

"Sebenarnya anak ini memiliki leadership yang luar biasa karena dia kapten, dan dia tidak ada riwayat untuk pertandingan-pertandingan yang dijalani ini ada riwayat sering kena kartu merah atau sering melakukan pelanggaran, tidak," ungkap Wendi.

3. Alasan PSSI tetap sanksi Dwi seumur hidup

Bagaimanapun, riwayat Dwi tidak mampu membantunya menyelamatkan karirnya di dunia sepak bola. Pandis PSSI tak bisa mengabaikan fakta berdasarkan laporan pertandingan terakhir bahwa Dwi Pilihanto telah melakukan pelanggaran berat.

"Kami selaku panitia disiplin memutuskan hal tersebut (sanksi), ini semua berdasarkan fakta di lapangan dan regulasi yang ada," kata Wendi.

Asprov PSSI jelas menyayangkan ketika seorang talenta DIY harus mengakhiri karir sepak bolanya dengan cara seperti ini. Tapi, kata Wendi, keputusan ini dipastikan diambil pula untuk kemaslhatan dan kebaikan pemain-pemain lainnya.

"Kita harus menjunjung tinggi putusan dari Pandis ini yang tidak serta merta kita putuskan, tapi banyak hal yang kita gali. Baik dari sisi laporan perangkat pertandingan, fakta data di lapangan, video, semuanya kita rangkum dan kita validasi dengan regulasi yang ada. Sehingga SK (Surat Keputusan) Pandis ini putusan yang harus kita hormati, kita hargai sehingga ke depan kita jadikan evaluasi kita bersama," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest Sport Jogja

See More

PSS Sleman Targetkan Cetak Gol Cepat Saat Lawan PSIS Semarang

10 Jan 2026, 11:51 WIBSport