PKL Teras Malioboro 2 tuntut relokasi ditunda. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Sementara itu, Ketua Paguyuban Tri Dharma, Supriati, mempertanyakan pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menyebutkan jika wacana relokasi ini telah dikomunikasikan tidak dengan paguyuban PKL, melainkan antara pemerintah dan pedagang perseorangan. Kendati demikian, faktanya tidak semua pedagang mengaku telah diajak berdiskusi dengan pemerintah.
"Kalau sekarang katanya secara individu, kita tagih kalau secara individu berarti kan semua pedagang dihadirkan pada sosialisasi. Kami mintanya bukan sosialisasi, tapi forum dialog terbuka komunikasinya dua arah," tegasnya.
Supriati turut menyayangkan langkah pemerintah yang justru menjalin komunikasi dengan pengurus lama paguyuban yang sekarang juga sudah tidak aktif. Perihal pernyataan Sultan mengenai perjanjian kontraktual serta durasi menempati Teras Malioboro 2 selama dua tahun juga tidak pernah disampaikan kepada PKL sebelumnya.
"Kita pernah tanya ke Pemkot, katanya sementara, tapi sementaranya berapa lama dijawab pokoknya sementara," imbuhnya.
Para PKL sangat berharap Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta mau membuka hati nurani mereka. Pasalnya, para pedagang juga tidak menolak kebijakan relokasi ini, lebih-lebih disebut disebut anti pemerintah.
"Kita cuma ingin ada forum dialog. Kita enggak menolak, kita enggak anti pemerintah. Kalau anti, kita pasti jualannya di selasar Malioboro itu, tapi kan nyatanya kita jualan di Teras Malioboro 2 ini," pungkas Supriati.