Ilustrasi ruang isolasi pasien virus corona (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Selanjutnya, ada klaster Jemaah Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Margomulyo yang memiliki pusat di Kota Yogyakarta. Klaster ini tercipta ketika tiga utusan dari GPIB di DIY berangkat ke Kota Bogor menghadiri Sinode GPIB di Hotel Aston, Maret 2020 silam.
"Kemudian tiga anggota yang dari jemaah gereja itu yang jadi perwakilan dan pulang (ke DIY)," imbuhnya.
Satu dari tiga orang yang dari Bogor itu setelahnya dari DIY melangsungkan perjalanan ke Semarang bersama sepuluh anggota GPIB lainnya. Mereka berangkat dengan satu mobil yang ditumpangi sebelas orang di dalamnya.
Lalu, mereka semua kembali ke DIY dan bersama-sama, termasuk mereka yang dari Bogor namun tidak ikut ke Semarang, mengikuti pertemuan di Gereja.
"Ada pertemuan di gereja GPIB di Jogja dan itu dihadiri jemaah baik dari Bantul, Yogyakarta, dan Sleman," ucap Riris.
Dari situlah terjadi laki tahap penularan lainnya setelah di Bogor dan Semarang. Total, ada 17 temuan, dua kasus yang terkonfirmasi positif, tiga PDP, dan selebihnya adalah yang reaktif via rapid test.
"Oleh karena itu kita bisa melihat bahwa tiga klaster besar itu mengingatkan kita bahwa ada risiko besar terkait dengan kegiatan yang menyebabkan terjadinya kerumunan massa. Oleh karena itu kami mengimbau kepada masyarakat agar tetap mencoba menghindari kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan," imbaunya.
Saat ini, dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas tengah melakukan kontak tracing terhadap tiga klaster besar ini. "Dan kemungkinan besar ada penambahan kasus terkait dengan penularan yang terkait tiga klaster ini," tandasnya.