Yogyakarta, IDN Times – Berita stigmatisasi dan pengucilan masyarakat Yogyakarta terhadap perawat dan tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 bikin terenyuh. Posisi tim medis sebagai garda depan penanganan pasien COVID-19 seolah menjadi menakutkan. Padahal mereka yang punya keberanian, keahlian, dan dedikasi menangani dan merawat pasien-pasien infeksius ini.
“Selama merawat pasien, kami tak hanya pakai alat pelindung diri (APD). Tapi juga harus jaga kesehatan diri dan orang-orang sekitar kami,” papar dokter spesialis patologi klinis RSUP Dr Sardjito, Andahru Dahesihdewi dalam siaran pers yang disampaikan Bagian Hukum dan Humas rumah sakit tersebut, Rabu (8/4).
Begitu pun Veronika, satu dari sekian perawat yang ditugaskan di bangsal Melati 5 RSUP Sardjito. Bangsal itu menjadi ruang isolasi utama pasien-pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2.
“Pasien dalam pengawasan (PDP) dan confirm COVID-19 (positif) dirawat di sana,” kata Veronika.
Bukan berarti, mereka selamanya berada dalam bangsal itu hingga pandemi COVID-19 benar-benar luruh. Ada anak, suami atau istri, dan orang tua yang menunggu di rumah. Lantas apa saja yang dilakukan perawat dan tenaga medis agar tetap aman dari virus ketika berkumpul kembali dengan keluarga?
