Ilustrasi Pelajar SD (IDN Times/Mardya Shakti)
Sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1973 terpaksa ditutup oleh yayasan karena setiap tahunnya hanya menerima segelintir murid. Sebelum resmi ditutup, pada tahun ajaran 2015/2016, murid kelas 1 hanya terdapat 9 siswa. Di tahun ajaran 2016/2017 hanya menerima 6, tahun ajaran 2017/2018 menerima 7, tahun ajaran 2018/2019 hanya menerima 6 dan tahun ajaran 2019/2020 hanya menerima 2 siswa.
"Saya mengajar di sini sejak tahun 1991. Saat itu SD masih menerima puluhan siswa baru," tutur ASN yang ditempatkan untuk mengajar di SD Kanisius Trengguno ini.
Walau dimiliki oleh Yayasan Katolik, siswa yang sekolah di SD Kanisius Trengguno ini, tak hanya beragama Katolik.
"Sebagian besar beragama Islam, yang katolik justru tidak banyak," ucapnya.
Namun dengan berjalannya waktu, murid yang masuk ke SD Kanisius Trengguno justru semakin menurun. Sehingga yayasan memutuskan untuk menutup sekolah.
"Lha di sini satu kalurahan saja ada 6 sekolah dasar. Muridnya semakin sedikit sehingga yayasan memutuskan untuk menutup sekolah," ucapnya.