Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (IDN Times/Paulus Risang)
Dalam keterangan tertulis dari Humas Pemda DIY, maksud sapaan Sri Sultan HB X kali ini adalah di dalam hidup ada fase bahagia, ada pula saat dimana manusia merasakan derita. Bahagia dan derita merupakan proses lumrah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Baik sebagai diri pribadi, sebagai makhluk sosial, pun sebagai bagian dari sebuah kehidupan besar yang bernama dunia.
Di dalam hidup, manusia harus bisa bertindak tepat, sesuai dengan kondisi yang melingkupinya. Ada saat manusia harus menunduk, merenung, menunduk, merenung dan berpikir secara keseluruhan, tak hanya dari satu sisi saja.
"Itulah yang disebut fase kontemplasi dan introspeksi. Introspeksi memerlukan sebuah keberanian, cermat pikir, tenang hati, dan kesiapan mengakui segala perbuatan, dimana dalam sesanti Jawa, disebut sebagai prinsip 'Mulat Sarira Hangrasa Wani," tutur Kepala Humas Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Selasa (20/4).
Sejatinya, setiap manusia pasti pernah mengalami krisis, bisa jadi karena disebabkan oleh dirinya sendiri, ataupun disebabkan oleh faktor eksternal yang ada di lingkungannya.