Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sistem Peternakan Indonesia Belum Efisien, Ini Solusi Fapet UGM

Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026). (Dok. Istimewa)
Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026). (Dok. Istimewa)
Intinya sih...
  • Chicory, rumput gajah, dan Alfalfa Tropik adalah varietas pakan hijauan unggul yang dikembangkan Fapet UGM
  • Peneliti Lab HMTP Fapet UGM menekankan pentingnya riset untuk ternak ruminansia dan unggas
  • Sistem peternakan Indonesia dinilai belum efisien, pakan ternak menyumbang biaya produksi tinggi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Tantangan utama dunia peternakan saat ini adalah ketersediaan pakan hijauan yang mampu berproduksi tinggi, bernutrisi optimal, tetapi tetap terjangkau secara ekonomi. Tantangan tersebut dijawab Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui berbagai inovasi riset pakan ternak.

Melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP), Fapet UGM menghadirkan sejumlah varietas pakan hijauan unggul yang sesuai dengan kebutuhan peternak. Beberapa di antaranya adalah leguminosa Alfalfa Tropik (Medicago sativa cv Kacang Ratu BW) yang telah memiliki Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) nomor 929/PPVT/2021, rumput gajah (Pennisetum purpureum cv Gama Umami) dengan PVT nomor 889/PVHP/2020, serta tanaman chicory (Cichorium intybus) yang saat ini masih dalam proses pengajuan PVT.

1. Chicory telah melalui uji coba multilokasi

Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026). (Dok. Istimewa)
Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026). (Dok. Istimewa)

Peneliti Lab HMTP Fapet UGM, Prof. Nafiatul Umami, menjelaskan bahwa chicory telah melalui uji coba multilokasi dan ditanam di 10 Balai Penelitian Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Hasilnya sangat menggembirakan karena chicory mampu tumbuh dan beradaptasi dengan baik. Tanaman ini berpotensi menjadi koreksi pakan lokal Indonesia,” ujarnya dalam acara Fapet Menyapa, Rabu (14/1/2026).

Acara tersebut juga menghadirkan Peneliti Lab HMTP lainnya, yakni Miftahus Shiratul Haq, Prof. Bambang Suhartanto, serta Agussalim.

Nafiatul Umami menambahkan bahwa riset yang dikembangkan di Laboratorium HMTP tidak hanya terfokus pada satu atau dua jenis hijauan. Meskipun sebagian besar penelitian diarahkan untuk ternak ruminansia, peluang riset untuk ternak unggas tetap dikembangkan.

“Alfalfa Tropik dan chicory tidak hanya bermanfaat bagi ruminansia, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas,” jelasnya.

2. Sistem peternakan Indonesia belum efisien

ilustrasi peternakan. (freepik.com/jcomp).
ilustrasi peternakan. (freepik.com/jcomp).

Sementara itu, Prof. Bambang Suhartanto menyoroti sistem produksi peternakan di Indonesia yang dinilai masih belum efisien karena cenderung bersifat intensif dengan pakan yang sepenuhnya disediakan. Menurutnya, sistem produksi ternak yang lebih efisien adalah sistem penggembalaan.

“Indonesia memang belum memiliki kebijakan dedicated land untuk penggembalaan seperti Australia. Namun, Indonesia memiliki potensi berbagai jenis lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan penggembalaan melalui sistem integrasi,” ujar Prof. Bambang.

Ia mencontohkan peluang integrasi sapi dengan perkebunan sawit yang memiliki potensi lahan lebih dari 15 juta hektare, serta integrasi dengan jenis perkebunan lain dan ternak yang sesuai, bahkan hingga integrasi dengan ternak lebah. “Laboratorium HMTP tidak hanya memiliki keahlian integrasi ternak besar dengan perkebunan, tetapi juga ahli ternak lebah seperti Trigona dan Apis mellifera,” imbuhnya.

3. Pakan ternak menyumbang biaya produksi tinggi

Sapi yang diserahkan ke kelompok tani di Desa Hambalan, Kabupaten Langkat (IDN Times/ Bambang Suhandoko)
Sapi yang diserahkan ke kelompok tani di Desa Hambalan, Kabupaten Langkat (IDN Times/ Bambang Suhandoko)

Tim Lab HMTP menilai pakan ternak menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya produksi peternakan, di luar biaya pengadaan ternak. Padahal, pakan hijauan sebagai sumber serat bagi ternak ruminansia relatif memiliki harga per satuan yang rendah.

Dengan hijauan bernutrisi tinggi, kebutuhan nutrisi ternak dapat terpenuhi secara optimal sehingga sistem produksi ternak, termasuk yang bersifat intensif, dapat menjadi lebih efisien. Hijauan bernutrisi tinggi tersebut kini dikenal dengan istilah green concentrate atau konsentrat hijau.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Sistem Peternakan Indonesia Belum Efisien, Ini Solusi Fapet UGM

14 Jan 2026, 23:09 WIBNews