Penyadap nira pohon kelapa.(IDN Times/Daruwaskita)
Menurut Slamet, merosotnya jumlah perajin gula di Triwidadi disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah semakin langkanya penyadap nira kelapa yang terus menurun, dan mayoritas dari mereka adalah orang tua. Generasi muda saat ini enggan untuk menjadi penyadap nira karena penghasilannya rendah dan tak menentu, ditambah lagi resikonya yang tinggi.
"Penyadap nira yang ada saat ini usianya sudah tua-tua, demikian pula perajin gula jawa juga sudah tua-tua semua," ungkapnya.
Pihaknya telah berupaya untuk memastikan usaha pembuatan gula jawa tetap bertahan bahkan bertambah, namun perjuangan ini tidaklah mudah. Bantuan alat keselamatan dari Kalurahan bagi para penyadap nira justru dianggap menimbulkan kerumitan dan memerlukan waktu yang lama untuk menyadap nira.
"Kita bantu alat keselamatan saat menyadap nira namun justru tak efektif bagi penyadap nira karena belum terbiasa," ungkapnya.
Lebih lanjut, Slamet mengungkapkan bahwa saat ini produksi gula jawa dari Kalurahan Triwidadi mencapai dua hingga tiga ton per hari. Namun, gula yang dihasilkan bukanlah murni gula jawa, melainkan sudah dicampur dengan gula pasir.
"Nah, kalau betul-betul murni ya masih sedikit, namun memang gula jawa murni dengan gula jawa asli harganya jauh lebih mahal," ungkapnya.