Ilustrasi Rumah. (IDN Times/Aditya Pratama)
Sementara itu, untuk dorongan agar buruh bisa mendapat akses rumah murah, bisa didukung dengan penyediaan tanah dari Sultan Ground maupun Pakualaman Ground. Kebutuhan rumah untuk buruh tersebut dirasa mendesak melihat harga tanah dan rumah yang terus naik di DIY, sementara upah buruh tidak pernah naik secara signifikan.
"Sangat mendesak (kebutuhan rumah murah). Upah buruh sangat murah. Misal saya di Bantul, katanya kalau kontrak rumah Rp15 juta. Kalau ngontrak saja kesulitan, apalagi buat beli rumah, karena upah buruh itu tidak pernah naik signifikan. Sementara harga tanah dan harga rumah naiknya gila-gilaan," kata Irsad.
Untuk transportasi publik yang murah dan bisa mengantarkan ke kawasan-kawasan industri juga akan sangat membantu buruh. Jika tidak bisa menaikan upah, setidaknya bisa mengurangi beban buruh.
"Sangat memungkinkan. Kami siap bekerja sama dengan berbagai pihak agar bagaimana meringankan buruh. Kalau menaikan upah buruh ada benturan UU Cipta Kerja, itu kan harus merevisi dulu. Saya gak tahu sampai kapan UU Cipta Kerja itu bisa dihapus, tapi kemudian Pemda bisa melakukan bantuan kepada buruh, dengan cara meringankan transportasi buruh, perumahan dan koperasi. Sebagai langkah mitigasi," ucap Irsad.