Salah satu seni instalasi yang ditampilkan di ARTJOG 2026. (IDN Times/Paulus Risang)
Senada dengan Pemad, Kurator ARTJOG, Farah Wardani, mengungkapkan bahwa sejak polemik mencuat dua hari sebelum pembukaan, ia langsung berdiskusi dengan para seniman yang hadir di ARTJOG, yang memang diajaknya sendiri sebagai kurator. Hasil diskusi tersebut juga ia sampaikan kepada pihak DHF.
"Intinya, sekarang kita bisa move on, teman-teman bisa menikmati pameran," kata Farah.
Farah mengaku, situasi ini menjadi pengalaman baru baginya, sebab pameran sempat menjadi perbincangan luas di media sosial bahkan sebelum publik melihat langsung karya-karya yang dipamerkan. Ia menyebut fenomena ini sebagai cerminan dari semangat zaman generasi saat ini.
"Pamerannya belum buka, belum banyak yang lihat karyanya, tapi sudah tiba-tiba heboh sekali. Tapi menarik buat saya, ini Generatio banget kalau kita ngomong soal cancel culture zaman sekarang," ujarnya. Ia menegaskan bahwa dirinya dan para seniman tidak ingin terjebak dalam sikap saling menyalahkan, melainkan tetap fokus mempersembahkan karya terbaik untuk publik.
"Kita semua terluka, seperti simbol yang ada di fasad Robi. Jadi, we are in the same boat, kita semua di perahu yang sama," katanya.
Farah juga menegaskan bahwa polemik tersebut tidak memengaruhi independensi kurasi maupun kebebasan berekspresi para seniman di ARTJOG. "Saya rasa itu sama sekali tidak mengintervensi para seniman. Tidak pernah ada intervensi. Kita dibebaskan untuk berekspresi di ARTJOG," tutupnya.