Perajin Bantul Sulap Kelapa Gabuk Jadi Produk Seni Bernilai Ekonomis

- Suyanto (54) mengubah kelapa gabuk menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomis tinggi, seperti tempat menyimpan uang berbentuk kura-kura dan kepala monyet.
- Pesanan kerajinan tangan meningkat drastis sebelum pandemi COVID-19, namun usaha terhenti total dan beralih ke penjualan di Pantai Goa Cemara.
- Setelah pandemi berakhir, pesanan dari perusahaan kembali meningkat, dengan harga jual Rp12 ribu per produk.
Bantul, IDN Times - Buah kelapa yang tidak berisi atau biasa disebut kelapa gabuk seringkali hanya dianggap sampah di pedesaan, dimanfaatkan untuk kayu bakar atau bahkan dibuang begitu saja. Namun, bagi Suyanto (54), kelapa gabuk bisa menjadi bahan dasar kerajinan tangan dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Melalui kreativitasnya, Suyanto menyulap kelapa gabuk menjadi berbagai produk unik seperti tempat penyimpanan uang berbentuk kura-kura hingga hiasan kepala monyet dengan berbagai pose.
1. Mencoba membuat kerajinan tangan dari bahan baku kelapa gabuk pada tahun 2007

Suyanto, yang ditemui di rumah produksinya di Padukuhan Wonorejo, Kalurahan Gadingsari, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul, bercerita tentang perjalanan usahanya. Sebelum memulai usaha kerajinan tangan berbahan kelapa gabuk, Suyanto sudah memproduksi pasel-pasel mainan anak-anak yang terbuat dari kayu jati dan dipasok ke berbagai perusahaan mainan.
Namun, seiring dengan semakin sulit dan mahalnya bahan baku kayu jati, Suyanto memutuskan berinovasi. Pada tahun 2007, ia mulai beralih membuat kerajinan tangan dari kelapa gabuk.
"Namun dengan semakin sulit dan mahalnya bahan baku maka mencoba membuat kerajinan tangan dengan bahan baku kelapa gabuk pada tahun 2007 silam," ucapnya, Kamis (10/10/2024).
2. Bahan baku kelapa gabuk melimpah

Gayung bersambut, usaha kerajinan dari kelapa gabuk milik Suyanto mulai mendapat respons positif dari sejumlah pengusaha dan perusahaan yang bergerak dalam penjualan handicraft, baik di dalam maupun luar negeri. "Awal tahun 2007 paling banyak kerajinan tangan dalam bentuk kepala monyet dengan berbagai pose," ujarnya.
Suyanto juga merasa bersyukur karena bahan baku sangat melimpah di daerahnya, yang terletak di dekat pantai, di mana kelapa gabuk mudah ditemukan. "Saya tak kebingungan untuk mencari bahan baku dan harus cukup murah yakni Rp1.000 per satu kelapa gabuk," tuturnya.
3. Pandemi COVID-19 usaha terpuruk

Suyanto mengakui bahwa sebelum pandemi COVID-19, usahanya berjalan lancar dengan pesanan hingga ribuan setiap bulan. Namun, ketika pandemi melanda, seluruh pesanan berhenti total. Untuk bertahan, ia terpaksa beralih berjualan kerajinan tangan di Pantai Goa Cemara.
"Otomatis penghasilan turun drastis," tuturnya.
Namun, setelah pandemi berakhir, beberapa perusahaan yang dulu menjadi pelanggannya mulai kembali memesan produk kerajinan seperti sebelumnya.
"Perusahaan yang memesan dari Pasuruan, Sidoarjo juga dari Bali. Mereka menjual lagi ke luar negeri," tuturnya.
4. Kerajinan kepala monyet dijual dengan harga terjangkau

Terkait dengan harga untuk kerajinan kepala monyet dengan berbagai pose, suami dari Rahayu (52) ini mengungkapkan bahwa harga kerajinan kepala monyet dengan berbagai pose yang ia produksi hanya Rp12 ribu per unit. Namun, ia tidak mengetahui berapa harga produk tersebut saat sampai di tangan pembeli atau buyer.
"Yang jelas dengan harga segitu sudah untung cukup banyak dan bisa menyerap tenaga kerja dari tetangga," tutur Suyanto yang juga pemilik Yan's Handicraft ini.
















