Olah Kotoran Kambing, Mahasiswa UGM Raih Juara Lomba Karya Ilmiah

1. Feses kambing cemari lingkungan

Hana menyebutkan, ide pembuatan briket dari fases kambing ini didasarkan banyaknya populasi kambing di Indonesia. Kondisi itu menyebabkan produksi limbah peternakan terus meningkat.
"Hingga saat ini feses kambing belum dimanfaatkan secara optimal oleh peternak sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan," ungkapnya pada Selasa (30/6).
2. Energi setara dengan bahan bakar fosil

Konversi kotoran kambing menjadi briket biomassa menjadi solusi alternatif mengurai persoalan lingkungan tersebut. Pasalnya limbah ternak kambing-domba memiliki biomassa yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.
"Biomassa yang dihasilkan sendiri memiliki energi yang hampir setara dengan bahan bakar fosil sehingga pengolahan menjadi briket memiliki nilai ekonomi yang layak dipertimbangkan," terangnya.
3. Inilah proses pembuatan briket

Hana menerangkan prosedur pembuatan briket biomassa diawali dengan penumbukan kotoran, kemudian hasilnya dikeringkan di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air. Selanjutnya kotoran dimasukan ke dalam reaktor pirolisis untuk didapatkan biochar yang dicampur dengan adonan pati, lalu dicetak dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
"Untuk menekan biaya produksi bisa memakai kembali bio oil yang dihasilkan dalam proses pirolisis sebagai bahan bakar dalam reaktor pirolisis," paparnya.
















