Libur Nataru, Wisatawan di Jogja Keluhkan Parkir Nuthuk dan Kemacetan

- Kemacetan lalu lintas terjadi di sejumlah ruas jalan, khususnya menuju area wisata seperti Malioboro.
- Fasilitas kantong parkir resmi dari pemerintah belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pelancong.
- Kunjungan wisatawan pada libur Nataru kemarin diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, didukung oleh pembangunan jalan tol menuju DIY.
- Praktik parkir liar dengan tarif tak sesuai aturan sulit dikendalikan dan merupakan kewenangan masing-masing pemerintah kabupaten/kota.
Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat dua hal krusial saat wilayahnya dibanjiri wisatawan sepanjang libur Natal dan tahun baru (Nataru) 2026 kemarin.
Dua hal menyangkut keluhan beserta masukan wisatawan paling banyak adalah soal parkir liar dengan tarif tak sesuai aturan alias 'nuthuk' serta kemacetan lalu lintas.
1. Kemacetan bisa diurai, kantong parkir resmi tak dimanfaatkan maksimal

Berdasarkan pantauan, kepadatan arus lalu lintas memang terjadi di sejumlah ruas jalan, khususnya yang menuju area wisata. Salah satunya adalah kawasan Malioboro saat malam pergantian tahun.
Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti sementara itu menyebut untuk kemacetan lalu lintas ini bisa cukup diurai alias terkendali oleh petugas di lapangan selama masa libur kemarin. "Untuk macet sendiri kemarin sudah lumayan terurai," kata Made.
Hanya saja, untuk praktik parkir liar dengan tarif tak sesuai aturan masih dikeluhkan oleh wisatawan. Sementara, kata Made, fasilitas kantong parkir resmi dari pemerintah juga sebenarnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pelancong.
"Kalau masyarakat mau menggunakan parkir yang sudah ditentukan pemerintah daerah, pastinya hal-hal yang berkaitan dengan nuthuk dan lain-lain itu tidak akan terjadi," ujar Made.
"Contohnya di Beskalan, di Ketandan, itu sudah jelas tarifnya, sekian jam, sekian rupiah," sambungnya.
2. Jauh lebih ramai dibanding tahun lalu

Made memperkirakan kunjungan wisatawan pada libur Nataru kemarin lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sekalipun, ia belum mengantongi data resmi jumlah pelancong dari dinas terkait.
"Jauh ramai ini, mungkin karena situasinya juga, orang mendapatkan kemudahan akses, jalan tol itu," katanya.
Ia melihat, adanya pembangunan jalan tol menuju DIY yang menjadi instrumen strategis untuk mengakselerasi sektor pariwisata melalui peningkatan aksesibilitas dan efisiensi perjalanan.
"Walaupun belum sepenuhnya dibuka sampai Jogja, tetapi itu memungkinkan orang sekarang lebih mudah menuju Jogja," pungkasnya.
3. Parkir liar sulit dikendalikan

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan untuk data dan penanganan parkir liar merupakan kewenangan masing-masing pemerintah kabupaten/kota.
Kendati, Erni tak menyangkal apabila praktik parkir liar ini memang sulit dikendalikan.
"Memang agak sulit mengatasinya, butuh konitmen semua pihak, masyarakat juga harus peduli terhadap aturan yang ada," ujarnya.


















