Kantor Ombudsman DIY (IDN Times/Febriana Sinta)
Saya kira kalau boleh menduga, ini fenomena gunung es yang terjadi di berbagai daerah mungkin. Terutama daerah yang, apa favoritisme itu belum hilang dari mindset orangtua. Orangtua kan ingin anaknya sekolah di sekolah yang mereka anggap favorit.
Sementara sebenarnya tujuan zonasi adalah mengeliminasi favoritisme sekolah itu, tapi jadi gak efektif karena orangtua belum lepas mindsetnya dari favoritisme itu.
Pemerintah sepanjang pengamatan kami di pusat maupun daerah itu belum pernah melakukan satu program yang kemudian membantu orangtua merubah mindset yang sesuai dengan visi misi pemerintah dalam menjalankan PPDB. Kita belum pernah melihat iklan di televisi yang misalkan mengampanyekan bagaimana sisi baik dari zonasi, apa keunggulan zonasi. Keadilan akses itu harus dihargai, belum pernah kan ada iklan seperti itu.
Sisi lain sebenarnya untuk tingkat Jogja dampak zonasi dampak positif sudah mulai terasa, salah satunya persebaran anak-anak pintar di berbagai sekolah. Kalau dulu ngumpul di satu sekolah, sekarang sudah tersebar. Salah satu indikatornya lomba-lomba karya ilmiah, penelitian, tidak dimenangkan sekolah itu saja.
Hasil riset saya, sekolah itu difavoritkan anak-anak itu kadang bukan karena output keluaran akademiknya. Difavoritkan lebih pada sekolah ini, basketnya keren unggul, unggul baris berbaris, ada yang pentas seninya, favoritisme itu memberi peran, tidak hanya keluarannya. Sementara orangtua favoritisme keluar bagus, diterima negeri. Memang upaya untuk meminimalisir favoritisme sekolah jadi PR (pekerjaan rumah) bersama gak cuma orangtua, maupun dinas pendidikan, kampus memberi andil mempertahankan itu, karena setiap tahun membuka jalur undangan yang kemudian tiap sekolah beda, sekolah yang difavoritkan relatif jalur undangannya lebih besar. Itu melanggengkan favoritisme. Di samping pemerintah itu belum berhasil memeratakan sarana prasarana pendidikan. Kompleks sih.