Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Kritik Presiden Lewat Surat ke UNICEF

- Ancaman penculikan dan diuntit oleh orang tak dikenal
- Teror masih terjadi dari nomor asing dan fitnah LGBT
- Harap tidak ada lagi teror, kebebasan harus dilindungi dalam negara demokrasi
Sleman, IDN Times – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto mendapat teror usai melayangkan surat ke UNICEF berisi kritik pada Presiden Prabowo Subianto atas tragedi meninggalnya YBS, seorang anak di NTT. Tiyo mendapat ancaman penculikan, hingga sempat dikuntit orang tidak dikenal.
“Setelah kami mengirimkan surat tersebut, muncul respons publik yang luar biasa. Ternyata respons publik yang luar biasa dan cenderung positif karena merasa terwakili itu tidak hanya berdiri sendiri, tapi juga diiringi oleh semacam teror. Teror ini adalah bahasa kekuasaan yang gagal menjelaskan pikirannya,” ungkap Tiyo, di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
1. Ancaman penculikan hingga sempat diuntit

Tiyo mengaku mendapat teror dalam bentuk pesan dari nomor yang tidak dikenal yang berasal dari kontak Inggris Raya. Ia pun merasa heran belakangan banyak yang menyinggung soal antek asing, ternyata yang melakukan teror justru dari nomor asing.
“Jangan-jangan antek asing adalah mereka yang menyuruh orang-orang ini supaya neror kita. Dan siapa yang nyuruh orang-orang ini untuk neror kita?,” ungkap Tiyo.
Tiyo mengungkapkan pesan teror yang diterima, mulai penculikan, ancaman untuk membuka aib, hingga sempat diuntit orang tak dikenal. “Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto, tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” kata Tiyo.
2. Teror masih terjadi

Tiyo mendapat teror dari sekitar enam nomor yang berbeda dan berasal dari luar negeri. Ia menyebut menerima teror tersebut sejak Senin (9/2/2026). Hingga saat ini dirinya mengaku masih menerimanya. “Sampai sekarang masih dan saya kira luar biasa juga ada semacam pembunuhan karakter yang saya juga heran,” ucap Tiyo.
Tiyo mencontohkan bahwa dirinya juga mendapat fitnah, karena tidak berpacaran. Menurutnya memilih tidak berpacaran, sebagai bagian komitmennya. “Jangan karena enggak punya pacar terus dikira kayak begitu toh? Itu kan, mohon maaf, tidak ada dasar yang kuat dan saya abaikan itu,” kata Tiyo.
3. Berharap tidak ada teror lagi

Tiyo mengharapkan teror semacam ini terakhir kalinya terjadi. Tidak boleh lagi, setelah ini ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang atau lembaga lain. “Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam dirinya sebagai warga negara,” ungkap Tiyo.
Ia juga mengungkapkan bahwa orang yang cinta pada bangsanya, apa pun ekspresinya harus dilindungi. Tidak boleh dianggap sebagai ancaman.

















