ilustrasi beras (Unsplash.com/Nathan Cima)
Wisnu menjelaskan terdapat berbagai faktor yang memengaruhi kenaikan harga beras. Beberapa di antaranya seperti kelangkaan pasokan dan meningkatnya permintaan. Dalam kasus Indonesia, volatilitas juga merupakan faktor yang berkontribusi pada kenaikan harga. Ketidakstabilan dalam ketersediaan sering kali berasal dari tantangan logistik dan produksi yang tidak mencukupi. Secara logistik, Indonesia sebagai negara berkembang bergulat dengan tantangan-tantangan yang terus-menerus.
"Dalam penelitian yang dilakukan oleh Reardon dan Timmer (2012) mengungkapkan bahwa di negara-negara berkembang, rantai pasokan dicirikan oleh panjangnya geografis dan perantara yang relatif pendek," ucap Wisnu.
Wisnu kembali menegaskan bahwa banyaknya perantara antara petani dan konsumen berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan harga beras yang cukup besar di Indonesia. Fenomena ini menyebabkan harga beras di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Misalnya di India, kisaran harga beras berkisar antara Rp10.140 - Rp32.136 per kilogram. Berikutnya, di China, kisaran harga beras berkisar antara Rp12.012 - Rp23.868 per kilogram.
Kompleksitas logistik yang dihadapi Indonesia mencakup infrastruktur transportasi yang tidak memadai, kurangnya fasilitas penyimpanan, dan kesulitan dalam koordinasi di antara berbagai pelaku dalam rantai pasok. Berbagai tantangan itu mengakibatkan penundaan, inefisiensi, dan peningkatan biaya yang pada akhirnya meningkatkan harga beras. Kurangnya keuntungan yang tersedia bagi petani beras adalah faktor signifikan lain yang berkontribusi pada lonjakan harga beras.
Perubahan pola musiman disebutkan Wisnu juga menjadi salah satu faktor yang memperparah fluktuasi tingkat produksi. "Dari studi yang dilakukan Ansari dkk. (2023) menunjukkan kerentanan Indonesia terhadap perubahan iklim yang terlihat dari kekeringan berkepanjangan yang terjadi pada tahun 2024 sehingga menyebabkan penundaan masa panen," ucapnya.
Gangguan tersebut dan peningkatan permintaan beras yang didorong oleh siklus politik meningkatkan tekanan pada rantai pasokan yang sudah cukup ketat. Para calon legislatif membeli beras dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada para pemilih sebagai upaya meningkatkan daya tarik elektoral mereka. Kondisi tersebut semakin membebani rantai pasokan dan memperburuk tekanan permintaan.