Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Antraks di Gunungkidul Ancam Kuliner Sate Klatak

Kasus Antraks di Gunungkidul Ancam Kuliner Sate Klatak
Ilustrasi warung sate klatak di kawasan Jejeran Bantul. (IDN Times/Holy Kartika)
Share Article

Bantul, IDN Times - ‎Kasus kematian belasan ternak di Gunungkidul akibat antraks menjadi perhatian serius Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul. Pasalnya, selama ini Gunungkidul menjadi salah satu pemasok ternak terbesar untuk kuliner sate klatak di kawasan Pleret, Bantul.

1. Ratusan domba disembelih untuk kuliner sate klatak di Bantul

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Joko Waluyo. (IDN Times/Daruwaskita)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Joko Waluyo. (IDN Times/Daruwaskita)

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan ada lebih dari 500 ekor domba yang dipotong untuk kuliner sate klatak dan menu kuliner lainnya.

"Jika kita lena sedikit saja, ada domba yang terpapar antraks dipotong, dampaknya saya tidak bisa membayangkannya," ujarnya, Kamis (3/2/2022).

2. Pemasok daging sapi di pasar-pasar yang ada di DIY berasal dari Bantul‎

Ilustrasi penjual daging sapi. IDN Times/Holy Kartika
Ilustrasi penjual daging sapi. IDN Times/Holy Kartika

Demikian pula dengan penyembelihan sapi yang berpusat di Pleret. Menurut Joko, dagingnya didistribusikan ke berbagai pasar tradisional yang ada di Yogyakarta. Untuk itu, perlu harus ada pengawasan ekstra tentang kesehatan hewan khususnya sapi yang akan disembelih.

"Harus dipastikan bahwa sapi yang akan disembelih dalam kondisi sehat dan bebas dari paparan antraks," ucapnya.

3. Setiap ternak yang masuk Bantul harus mengantongi SKKH‎

ilustrasi sapi (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
ilustrasi sapi (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Untuk memastikan sapi, domba, atau kambing yang dikirim dari Gunungkidul dalam kondisi sehat, maka pengiriman hewan dari sana harus mengantongi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Ketika tidak mengantongi SKKH, ternak tersebut tidak diizinkan masuk ke Bantul, apalagi sampai ke pasar hewan.

"Makanya kami sudah memberikan kepada petugas dari DKPP Bantul yang berada di Kapanewon Piyungan, Dlingo, Pleret, dan Imogiri untuk meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak dari Gunungkidul," ungkapnya.

Di sisi lain Joko juga menekankan kepada para medis untuk memantau kandang-kandang kelompok baik itu sapi atau domba di Kabupaten Bantul agar para pemilik ternak untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan hewan peliharaannya.

"Bantul sampai hari ini daerah di DIY yang bebas dari antraks. Kami tidak ingin antraks masuk ke Bantul karena di Bantul banyak kuliner yang mengandalkan daging domba. Jika terpapar antraks pasti akan berpengaruh terhadap kuliner yang menggunakan daging domba atau kambing termasuk daging sapi," tegasnya.‎

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hironymus Daruwaskita
EditorHironymus Daruwaskita

Latest News Jogja

See More

4 Bulan Tak Digaji, Eks Pekerja Rumah Sakit di Bantul Demo

28 Jun 2026, 18:50 WIBNews