Penulis dan aktivis Kalis Mardiasih meluncurkan novel debutnya, Makamkan Ibu di Samping Ayah, pada Sabtu (21/6/2026). (IDN Times/Paulus Risang)
Luka generasional, atau dalam psikologi dikenal sebagai intergenerational trauma, adalah kondisi ketika dampak psikologis dari pengalaman traumatis diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sering kali tanpa disadari oleh siapa pun di dalam keluarga. Di Indonesia, isu ini kian sering diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda yang mulai mempertanyakan pola-pola pengasuhan yang mereka terima.
Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah mengangkat dua isu besar terkait hal tersebut. Pertama, generational gap antara generasi orang tua dan anak-anak milenial maupun Gen Z yang sudah punya cara pandang hidup yang jauh berbeda, mulai dari soal pekerjaan, jabatan, hingga status sosial. Kedua, generational trauma, soal bagaimana ketidaksanggupan orang tua mengelola emosi dan traumanya sendiri akhirnya diwariskan secara halus kepada anak-anaknya tanpa mereka sadari.
Menurut Kalis, meski lahir dari rahim yang sama, anak pertama, kedua, dan ketiga, bisa jadi punya cara yang sangat berbeda dalam memaknai relasinya dengan orangtuanya.
"Bagaimana anak pertama melihat ibunya belum tentu sama dengan pandangan anak kedua, begitu juga anak ketiga, karena mereka berproses dengan kehidupan yang berbeda-beda," ujar Kalis, menjelaskan bagaimana luka yang sama bisa dimaknai berbeda oleh setiap anak dalam satu keluarga.
Lewat novel ini, isu luka generasional tidak ditempatkan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai inti cerita yang dijalani langsung oleh para tokohnya.