Ilustrasi (IDN Times/Arief Rahmat)
Setyoajie menuturkan, BMKG memonitor aktivitas gempa bumi di DIY selama 24 jam melalui sembilan sensor, dan fenomena peningkatan intensitas kegempaan akibat akitivitas Sesar Opak ini masih bisa disebut dalam kategori normal.
"Ini masih normal," tegas Setyoajie.
Dikatakan normal lantaran DIY terutama bagian selatan dan kawasan Jawa Tengah adalah zona aktif gempa. Dalam artian, gempa bumi memang bisa terjadi kapan saja.
Namun, kata Setyoajie, Sesar Opak di sisi lain juga memiliki potensi memicu gempa bumi hingga magnitudo 6,5 atau gempa besar dan merusak seperti yang pernah terjadi pada 2006 silam.
Setyoajie menyampaikan meski gempa tidak bisa diprediksi, ia meminta masyarakat tetap tenang dan merespons Informasi mengenai aktivitas gempa di kawasan Sesar Opak ini dengan meningkatkan level kewaspadaan dan mitigasi kebencanaan.
"Poinnya adalah, masyarakat di DIY atau masyarakat di sekitar Sesar Opak lebih waspada. Dalam artian paham konsep mitigasi gempa bumi, paham konsep evakuasi mandiri, sehingga diharapkan kalau pun terjadi dampaknya tidak terlalau signifikan," tutupnya.