Ini Kendala Perkembangan Mobil Listrik Menurut Peneliti Pustral UGM
- Kendaraan listrik mampu menekan emisi karbon yang berpengaruh buruk terhadap lingkungan global.
- Teknologi baterai belum efisien, perlu didorong kematangan pasar, dan infrastruktur charging belum kondusif untuk adopsi kendaraan listrik.
- Masyarakat DIY semakin meningkat penggunaan kendaraan listrik karena biaya pemakaian lebih murah dan pemerintah memberikan insentif PPN untuk mobil listrik.
Yogyakarta, IDN Times – Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Arif Wismadi menilai kendaraan listrik mampu menekan emisi karbon yang berpengaruh buruk terhadap lingkungan global.
Arif menilai komitmen pemerintah untuk peralihan ke tenaga listrik tinggi. Hal tersebut dari gencarnya promosi, insentif internasional juga dikejar, industri bahan baku dan pembuatan baterai diproteksi dengan agresif untuk kepentingan nasional.
1. Infrastruktur rumah belum siap untuk kendaraan listrik
Namun Arif menyebut, masih ada kendala seperti teknologi baterai belum efisien, sehingga dibutuhkan kemurnian tinggi pada bahan dasar pembuatan baterai, misalnya di atas 90 persen. “Tanpa itu lama penggunaan, waktu charging, sistem penggantian baterai dan lain-lain belum sangat membuat nyaman pengguna yang sudah dimanjakan dengan BBM,” kata Arif, Senin (21/10/2024).
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu menambahkan, perlu didorong kematangan pasar yang tidak mengandalkan daya beli perseorangan. Saat ini infrastruktur charging di rumah tangga dan fasilitas kerja belum cukup kondusif untuk adopsi dan adaptasi penggunaan kendaraan listrik.
“Perusahaan besar yang bergerak di layanan mobilitas, mestinya disasar agar industri kendaraan listrik bisa mencapai skala penjualan. Jangan terlalu besar mentargetkan pada penjualan individu atau rumah tangga,” ungkapnya.
2. Minat menggunakan kendaraan listrik meningkat
Sementara Branch Manager PT Sun Mega Motor Hyundai Mlati, Sugiharto Djojosaputro menilai, jumlah masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya untuk menggunakan kendaraan listrik semakin meningkat. Salah satunya disebabkan biaya pemakaian kendaraan listrik lebih murah dibanding bahan bakar.
“Kenikmatan yang gak bisa dipungkiri, misal jalan 200 km, kalau jalan mobil biasa harus ngisi bensin Rp150 ribu. Kalau elektrik mungkin hanya Rp50 ribu cukup kali ya dengan kuota yang kita inginkan,” kata Sugiharto.
Hal ini ditambah Pemerintah mengeluarkan insentif PPN untuk mobil listrik, yang awalnya 11 persen hanya menjadi 1 persen. “Ada dobel program jadinya. Best offer banget untuk konsumen yang mencari mobil listrik. Barang sangat miring terjangkau. Kalau saya lihat pemerintah juga mendukung ke arah situ (kendaraan listrik yang ramah lingkungan),” ucap Sugiharto.
3. Ketersediaan SPKLU perlu didorong
Sugiharto menyebut saat ini masih diperlukan penambahan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Dukungan dari PLN maupun pihak swasta lain diperlukan untuk peningkatan SPKLU.
“Semakin mudah akses (SPKLU), peningkatan ke kendaraan listrik saya rasa akan lebih cepat lagi ke depan. Kalau masalah harga kendaraan listrik sebenarnya relatif ya itu,” ungkap Sugiharto.
















