Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Indonesia Trail Run Series Siap Susuri Keindahan Alam di Berbagai Daerah
Race Owner Trail Run bersepakat untuk menggelar ajang Indonesia Trail Run Series untuk semakin memosisikan olahraga lari trail. (Dok. Istimewa)
  • Lima penyelenggara trail run nasional berkolaborasi membentuk Indonesia Trail Run Series untuk memperkuat ekosistem olahraga lari lintas alam dan menjadikan Indonesia destinasi sport tourism kelas dunia.
  • Sistem poin dan jadwal tahunan diterapkan di lima daerah—Yogyakarta, Bali, Wonosobo, Pasuruan, dan Tawangmangu—guna menciptakan kompetisi berkelanjutan serta narasi destinasi yang menarik bagi pelari.
  • Event ini mendorong ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan wisatawan, okupansi penginapan, serta perputaran usaha UMKM di sekitar lokasi lomba dengan karakter geografis dan budaya yang khas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Lima race owner trail run Indonesia membentuk Indonesia Trail Run Series. Kolaborasi nasional ini bertujuan memperkuat ekosistem trail run, sekaligus mendorong Indonesia sebagai destinasi sport tourism kelas dunia.

Lima event penggagas Trail Run Series adalah Coast to Coast Ultra – Yogyakarta; Bali Trail Run Ultra – Bali; Dieng Caldera Race – Wonosobo; MANTRA116 – Pasuruan; dan Siksorogo Lawu Ultra – Tawangmangu. Lima panggung alam berbeda yang selama bertahun-tahun tumbuh bersama komunitas dan kini memilih bersatu dalam satu payung kolaborasi.

1. Potensi besar trail run Indonesia

Race Owner Trail Run bersepakat untuk menggelar ajang Indonesia Trail Run Series untuk semakin memosisikan olahraga lari trail. (Dok. Istimewa)

Perwakilan Coast to Coast Ultra, Ikhsan Sitaryadi, menuturkan Indonesia Trail Run Series lahir dari diskusi panjang para penyelenggara berbasis komunitas yang melihat potensi besar trail run Indonesia jika dikelola dalam sistem terintegrasi. Selama ini, kolaborasi berjalan dalam bentuk dukungan jejaring komunitas dan partisipasi silang. Namun, tanpa struktur nasional, dampaknya belum optimal, baik bagi atlet, sponsor, maupun destinasi.

“Kolaborasi ini bukan sekadar simbolik. Kami ingin membangun sistem yang berkelanjutan, yang memberikan arah jelas bagi atlet dan standar bersama bagi penyelenggara,” ujar Ikhsan, Rabu (25/2/2026).

Dalam kerangka Indonesia Trail Run Series, salah satu kategori dari masing-masing event akan dilabeli sebagai bagian dari series. Sistem poin akan digunakan, sehingga performa pelari dapat terukur secara objektif dan berjenjang. 

“Dengan format series, pelari tidak lagi hanya berkompetisi dalam satu lomba, tetapi dalam satu musim. Ini menciptakan dinamika baru. Lebih kompetitif, lebih strategis, dan lebih profesional,” kata perwakilan Bali Trail Run Ultra, Agus Yudha.

2. Angkat berbagai destinasi di daerah

Event Coast to Coast Night Trail Ultra dongkrak kunjungan wisatawan ke Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)

Agus menekankan pentingnya narasi destinasi. “Indonesia memiliki gunung, hutan, dan lanskap yang unik. Jika dikelola bersama dalam satu series, kita bukan hanya menjual lomba, tetapi menjual pengalaman dan cerita destinasi,” ujar Agus.

Dengan sistem series yang terjadwal sepanjang tahun. Februari di Yogyakarta, Mei di Bali, Juni di Wonosobo, Juli di Pasuruan, dan Desember di Tawangmangu, Indonesia Trail Run Series secara tidak langsung menciptakan kalender sport tourism nasional yang berkesinambungan dan sehat bagi kompetisi para atlet Trail Run Indonesia.

Selain itu, perwakilan MANTRA116, Ivan menambahkan dengan adanya Indonesia Trail Run Series maka diharapkan pertumbuhan olahraga lari trail semakin berkembang sehat. “Kami ingin memastikan pertumbuhan yang sehat, baik untuk atlet, sponsor, maupun penyelenggara,” ucapnya.

3. Dampak event terhadap perekonomian

ilustrasi pria menggunakan sepatu trail running (unsplash.com/Markus Spiske)

Lebih dari sekadar kompetisi, Indonesia Trail Run Series memposisikan diri sebagai penggerak sport tourism. Setiap event anggota berlangsung di destinasi dengan karakter geografis dan budaya yang kuat. Mulai dari pesisir pantai dan perbukitan di Yogyakarta, lanskap tropis di Bali, kaldera Dieng, pegunungan Pasuruan, hingga lereng Lawu di Tawangmangu.

“Peserta tidak datang sendiri. Mereka membawa keluarga, komunitas, dan menginap beberapa hari. Hotel, homestay, UMKM, transportasi lokal, semuanya bergerak,” kata perwakilan Dieng Caldera Race, Mahendratta.

Apa yang diungkapkan Mahendratta bukan sekadar omong kosong semata. Data internal penyelenggara menunjukkan bahwa mayoritas peserta ultra trail berasal dari luar kota, bahkan luar negeri. Mereka rata-rata tinggal 2–4 malam, memanfaatkan akomodasi lokal, kuliner daerah, serta destinasi wisata sekitar race venue.

“Dalam konteks ekonomi daerah, event trail run berkontribusi pada perputaran ekonomi yang signifikan, khususnya di wilayah pegunungan dan dataran tinggi yang bukan pusat industri,” ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team