Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Mardya Shakti)
Haedar mengajak untuk menciptakan kondisi agar pembelahan politik ini tidak terjadi pada Pemilu 2024 mendatang. Tidak harus menunggu hingga tahun 2024, namun upaya pencegahan tersebut bisa dilakukan mulai tahun 2023, atau bahkaan di akhir tahun 2022 ini. "Dinamika politik, perbedaan hal demokratis alamaih, tapi pembelahan politik yang menjadikan warga bangsa, kekuatan bangsa, bahkan institusi menjadi terbelah seakan-akan Pemilu pertarungan ideologi dan pertarungan kepentingan yang saling berhadapan dan merusak kesatuan bangsa, ya mari kita pra kondisikan untuk tidak terjadi," ujar Haedar.
Haedar melanjutkan bahwa cara untuk mengakhir pembelahan dengan mengembangkan dan memproduksi pernyataan isu, sekaligus energi positif, dalam kehidupan kebangsaan. "Elit bangsa ini mari kita produksi sikap pernyataan dan berbagai narasi, bahkan relasi yang justru menciptakan bahwa 2023, 2024 InsyaAllah dalam dinamika politik, tetap bersatu, tetap satu sama lain toleran dalam perbedaan politik. Bahkan tidak menjadi masalah siapapun yang berkontestasi, sejauh sudah memenuhi persyaratan, dan mengikuti koridor yang berlaku," kata Haedar.
Haedar juga mengingatkan perlu kesediaan jiwa kenegarawanan dari semua pihak untuk menahan diri. "Boleh tidak suka, boleh bahwa kekuatan lain sebagai rival untuk kontestasi kan wajar. Seperti Piala Dunia satu sama lain antar kesebelasan, salin mengintip lawan, ada mungkin juga perang kata-kata, tapi dalam koridor permainan, demokrasi yang fair," ujarnya.