Herlan Darmawan, Pakar Volcano Hazard UGM (kiri) saat memaparkan erupsi Gunung Semeru. IDN Times/Siti Umaiyah
Herlan Darmawan, Pakar Volcano Hazard UGM menjelaskan secara saintifik, curah hujan yang tinggi belakangan ini bisa menyebabkan ketidakstabilan pada endapan lava. Pada beberapa kasus, faktor eksternal seperti curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan thermal stress dalam tubuh kubah lava dan memicu ketidakstabilan dalam tubuh kubah lava. Contohnya pada erupsi Gunung api Soufriere Hills Volcano Montserrat pada tahun 1998, 2000, 2001, dan 2003, hujan lebat dengan intensitas >80 mm/h dan durasi > 2h memicu runtuhnya kubah lava.
Di beberapa gunung api dengan lingkungan salju juga bisa menyebabkan melelehnya salju secara cepat juga dapat menyebabkan kubah lava tidak stabil.
"Memang pada beberapa kasus bisa curah hujan menyebabkan adanya seperti stres, kalau di dalam itu panas kemudian terisi air hujan maka terjadi stim. Sehingga menyebabkan tekanan yang tinggi, ini juga memicu terjadinya longsor. Hal ini seperti terjadi juga pada Merapi, yang pada beberapa minggu terakhir terjadi guguran lava karena intensitas hujan tinggi," paparnya.
Selain bahaya primer gunung meletus, sebenarnya bahaya sekunder juga patut untuk diwaspadai. Seperti halnya banjir bandang, di mana material yang lepas di dalam hulu, kena air hujan bisa jadi banjir bandang ke arah hilir.