Ilustrasi edukasi kesehatan mengenai PHBS. (IDN Times/Dhana Kencana)
Meski tidak ada korban meninggal dunia, masyarakat diharapkan tetap mencegah leptospirosis, yang lebih rentan menular di musim hujan. Dinkes Kota Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk mengelola dan meminimalisir sampah yang bisa mengundang tikus, serta membersihkan dengan disinfektan bagian rumah yang diindikasi bekas kencing tikus.
Para pekerja yang terkait sampah dan beraktivitas di sawah atau selokan agar menggunakan pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu boot untuk menghindari paparan pada kulit. Jika ada luka di bagian tangan dan kaki agar diobati dan ditutupi dengan pelindung luka.
"Cuci tangan dan bersih-bersih setelah beraktivitas di tempat berisiko terjadinya penularan leptospirosis. Prinsipnya melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," ucapnya.
Sementara itu Kepala Puskesmas Kotagede II, Yusnita Susila Astuti, menyampaikan untuk kewaspadaan leptospirosis, Puskesmas Kotagede II memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat melalui infografis terkait penyakit Leptospirosis, tanda dan gejala, cara pencegahan dan risiko penularan. Di samping itu melakukan survei vektor reservoir (pembawa) Leptospirosis untuk mengetahui faktor risiko penularan.
"Pada musim hujan lebih berpotensi risikonya karena penularan Leptospirosis melalui air kencing tikus, sehingga lebih mudah menyebar pada saat hujan. Risiko (warga) di bantaran juga lebih rentan karena bantaran sungai rawan banjir sehingga air kencing tikus yang mengandung bakteri Leptospirosis mudah mengalir bersama air sungai atau air banjir," pungkas Yusnita.