Sementara, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengatakan tren kenaikan kasus harian positif COVID-19 yang hingga hari Selasa (25/1/2022) mencapai 37 kasus belum ada indikasi para pasien terpapar COVID-19 varian Omicron.
"Saya mendapatkan laporan dari Dinkes Bantul bahwa dari kasus aktif di Bantul belum ada kasus yang memenuhi syarat untuk diteliti dengan menggunakan Whole Genome Sequencing atau WGS," ujarnya, Rabu (26/1/2022).
Beberapa syarat yang bisa diambil sampel untuk diteliti dengan WGS di antaranya pasien bepergian atau datang dari luar negeri yang ada kasus Omicronnya, tidak kontak erat dengan pasien yang terpapar Omicron, tidak ke daerah yang ada kasus Omicron seperti DKI Jakarta atau daerah-daerah yang sudah ada kasus Omicronnya atau kontak dengan orang yang datang dari daerah yang ada kasus Omicronnya.
"Dugaan kuat kita ya kasus aktif COVID-19 masih terpapar varian lama yakni varian Delta," ungkapnya.
Politisi PKB ini menduga melonjaknya kasus aktif COVID-19 bukan karena dampak Nataru namun demikian karena masyarakat lengah dalam menerapkan protokol kesehatan. Apalagi Kabupaten Bantul pernah nol kasus harian COVID-19 sehingga masyarakat terlena dan lengah tidak menerapkan protokol kesehatan.
"Lah saat kasus turun bahkan nol kasus, warga Bantul kendor semua, nah ternyata terjadi klaster-klaster baru. Ternyata pandemi masih ada," ujarnya.
Lebih jauh Halim menegaskan kasus positif COVID-19 yang melonjak sebagian besar menyasar kepada orang-orang yang belum divaksinasi.
"Jadi ini mungkin kontak dari orang yang belum divaksin karena yang belum divaksin itu imunitasnya rendah dan sebagian pasien positif ini belum divaksin," terangnya.