Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Child Grooming: Manipulasi di Balik Topeng Kepedulian dan Relasi Emosional

ilustrasi child grooming
ilustrasi child grooming (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Dalam beberapa kasus, praktik child grooming bahkan berujung pada relasi yang secara sosial tampak sah, termasuk pernikahan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menghilangkan unsur eksploitasi.
  • Korban child grooming berisiko mengalami dampak psikologis jangka panjang, seperti penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
  • Orang tua dan lingkungan terdekat perlu membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak sebagai upaya pencegahan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Praktik child grooming kerap diawali dengan pendekatan yang terlihat wajar, penuh perhatian, dan kerap luput dikenali. Kasus yang dialami Aurelie Moeremans sejak remaja menunjukkan bagaimana relasi antara orang dewasa dan anak dapat dibangun secara bertahap hingga memicu ketergantungan emosional yang berisiko.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, mengatakan pola tersebut menjadi ciri utama dalam praktik child grooming. Menurutnya, pelaku secara perlahan membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum memanfaatkan relasi itu demi kepentingan pribadi.

“Child grooming dilakukan melalui proses yang perlahan dan manipulatif. Pelaku berupaya menciptakan ketergantungan emosional anak. Ketika anak sudah merasa aman dan bergantung, di situlah pelaku mulai mengambil keuntungan dari relasi tersebut, yang paling sering berujung pada eksploitasi seksual,” jelas Cahyo pada Sabtu (17/1/2026) dilansir laman resmi UMY.

1. Manfaatkan rasa percaya sebagai topeng

Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan
Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan. (Dok. UMY)

Dalam beberapa kasus, praktik child grooming bahkan berujung pada relasi yang secara sosial tampak sah, termasuk pernikahan. Namun, Cahyo menegaskan kondisi tersebut tidak otomatis menghilangkan unsur eksploitasi. Relasi yang dibangun sejak anak berada dalam situasi rentan tetap menyisakan ketimpangan kuasa, sehingga sulit mewujudkan hubungan yang setara dan sehat.

Praktik child grooming juga kerap luput disadari, baik oleh korban maupun lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan pelaku sering menampilkan diri sebagai sosok yang peduli, suportif, dan layak dipercaya.

“Pelaku biasanya ramah, perhatian, mau mendengarkan keluh kesah anak, serta memberikan validasi emosional. Dari luar, ia tampak seperti orang dewasa yang baik. Padahal, di balik itu terdapat motif yang tidak sehat dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak,” ujarnya.

2. Dampak psikologis jangka panjang

ilustrasi korban child grooming (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi korban child grooming (pexels.com/Pixabay)

Cahyo menambahkan, korban child grooming berisiko menghadapi dampak psikologis jangka panjang. Pada tahap awal, anak kerap mengalami kebingungan emosional, perasaan tidak nyaman, serta konflik batin yang kemudian dapat berkembang menjadi trauma.

“Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Rasa bersalah karena merasa tidak mampu menolak atau melawan sering terbawa hingga korban dewasa,” jelasnya.

3. Cara mencegah child grooming

Orangtua dan anak.
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Alena Darmel)

Sebagai upaya pencegahan, Cahyo menyoroti peran orang tua dan lingkungan terdekat dalam membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak. Ikatan tersebut dinilai menjadi pelindung utama agar anak tidak mencari pemenuhan emosional dari pihak luar yang berisiko.

“Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan diri, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh, serta keberanian untuk mengatakan tidak. Dengan pendampingan emosional yang kuat, orang dengan niat tidak baik akan lebih sulit memasuki dunia anak,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Child Grooming: Manipulasi di Balik Topeng Kepedulian dan Relasi Emosional

19 Jan 2026, 12:07 WIBNews