Aksi buruh Jogja memperingati Hari Buruh, Rabu (1/5/2024). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
UMK yang rendah, tidak sejalan dengan kebutuhan para pekerja, termasuk harga tanah dan rumah yang terus meroket. Akibatnya para buruh tidak bisa dengan mudah untuk membeli rumah, bahkan rumah sederhana.
Salah satu buruh pabrik mebel, Safarianto mengaku saat ini dirinya masih tinggal dengan orangtua, padahal sudah memiliki seorang istri dan dua orang anak. Ia mengaku cukup berat untuk bisa beli rumah di DIY.
"Kebutuhan dasar sandang pangan kita masih bisa seadanya, tapi kalau rumah, sampai saat ini susah untuk menjangkau. Keinginan beli rumah pasti ada. Itu harapan semua teman-teman buruh. Rumah itu kebutuhan dasar," ucap Safarianto, saat mengikuti aksi Hari Buruh, di Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (1/5/2024).
Untuk menjangkau rumah subsidi dengan harga Rp160 juta pun ia merasa berat, dengan gaji yang ia dapat saat ini. "Susah dengan angsuran Rp900 ribu-Rp1 juta per bulannya. Hampir separuh upah itu untuk angsuran. Padahal harus menghidupi istri dan anak, transportasi dan yang lainnya.