Antraks Sebabkan Rumah Pemotongan Hewan di Gunungkidul Sepi

Gunungkidul, IDN Times - Pasca kematian belasan ternak milik warga Gunungkidul akibat terpapar antraks, pemilik rumah pemotongan hewan (RPH) mengaku jumlah hewan yang dipotong mengalami penurunan. Demikian pula permintaan daging sapi untuk pembuatan bakso mengalami hal yang sama.
1. Jumlah ternak yang dipotong turun

Salah satu pemilik RPH di Semanu, Gunungkidul, Sutiyem membenarkan penurunan jumlah hewan yang disembelih akibat antraks. Biasanya pelanggan terbanyak adalah pedagang bakso.
"Iya memang jumlah hewan yang dipotong berkurang dibandingkan sebelum terjadinya kematian ternak akibat antraks," katanya saat dihubung wartawan, Sabtu (5/2/2022).
2. Pemilik RPH minta pemerintah sosialisasikan daging dari RPH aman dikonsumsi

Sementara pemilik RPH lainnya, Suwardi mengaku khawatir dengan penurunan tersebut. Ia berharap pemerintah segera menyosialisasikan daging yang dipotong di RPH aman dikonsumsi.
"Ya semoga ada sosialisasi agar tidak takut mengonsumsi daging sapi atau domba karena aman dan tidak terpapar antraks," katanya.
3. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul genjot pemberian suntikan antibiotik

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Gunungkidul, Kelik Yuliantoro mengaku penurunan penjualan jumlah ternak, namun pihaknya belum bisa meghitung besaran penurunan.
Meminimalkan meluasnya antraks, pihaknya menggenjot suntikan antibiotik terhadap ternak yang berada di zona merah penularan antraks.
"Sudah kita kendalikan, sekarang berusaha agar tidak ada penambahan kasus ternak mati akibat antraks di Gambong dan Gedangsari," ungkapnya.
"Ternak yang berada di zona merah penularan antraks sampai saat ini belum boleh keluar. Semua harus dipastikan kesehatannya dengan pemberian antibiotik, vaksin, lokasi tertentu diberi disinfektan, cairan formalin dan edukasi kepada masyarakat," pungkas Yuliantoro.














