Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Resonansi, Rumah Impian di Jogja yang Mewujud Jadi Kedai Ramen dan Burger
Intan Muninggar (kiri) dan Muhammad Hallala (kanan) di depan Resonansi. (IDN Times/Paulus Risang)
  • Resonansi di Sleman berawal dari tanah yang dibeli Muhammad Hallala dan Intan Muninggar untuk rumah, lalu diubah menjadi angkringan modern setelah rencana pembangunan tertunda pandemi.
  • Kedai ini direnovasi pada 2022 dan dibuka kembali pada 2023 dengan ramen serta burger homemade sebagai andalan, yang dipelajari pemilik secara otodidak dari sumber daring.
  • Berarsitektur terbuka seperti pendopo di tengah sawah, Resonansi menyediakan makanan Rp17.000-Rp65.000 dan minuman Rp17.000-Rp50.000, dengan jam buka berbeda pada hari kerja dan akhir pekan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebuah kedai berdiri dikelilingi hamparan sawah. Bangunannya beratap rendah dan tak berpintu, serupa pendopo. Tepat di sampingnya, ada bangunan 2 lantai yang merupakan hunian pemilik kedai. Itulah pemandangan yang akan menyambutmu saat menginjakkan kaki di Resonansi.

Kedai kopi, ramen, dan burger ini biasa menjadi jujugan anak muda hingga keluarga karena suasananya yang tenang, cocok buat healing sejenak dari hiruk pikuk kota. Kalau datang sore hari saat cuaca cerah, pemandangan area sawah saat golden hour bikin betah kamu berlama-lama.

Tapi, yang menarik dari Resonansi bukan cuma menu dan suasananya, tapi juga cerita inspiratif di baliknya. Pasangan suami istri pemiliknya, Muhammad Hallala dan Intan Muninggar, berbagi kisah upaya keduanya mewujudkan "rumah" yang nyaman di Jogja versi mereka.

Awalnya gak terpikirkan bikin kafe

Bagian depan Resonansi Coffee Ramen Burger di Sleman. (IDN Times/Paulus Risang)

Tanah tempat Resonansi berdiri sekarang dibeli Hallal dan Intan di akhir 2019. Pasangan suami istri ini memang bercita-cita menetap di Jogja. Sebelum pindah, Hallal yang kelahiran Jawa Timur 5 tahun merantau ke ibu kota. Sementara, Intan berasal dari Solo.

Waktu membeli tanah itu, tujuannya sederhana, yaitu untuk tempat tinggal. Belum ada bayangan sama sekali soal usaha kuliner.

Nahas, proses pengurusan sertifikat baru kelar tepat ketika pandemi COVID-19 mulai merebak awal 2020. Rencana bangun rumah pun terpaksa diurungkan, apalagi pandemi ikut memukul pekerjaan Hallal dan istrinya di proyek yang sedang mereka jalani.

Setahun tanah itu menganggur. Baru di akhir 2020, muncul pikiran sayang kalau dibiarkan begitu saja. Dari situ lahirlah ide untuk membuat angkringan modern. Konsep ini dipilih karena paling sederhana dan masih dekat dengan budaya lokal.

"Kita buka sesuatu untuk nongkrong gitu-gitu terus orang bisa makan, bisa minum, bisa ngangkring. Karena kita berdua juga waktu pacaran di Solo, budaya angkringan atau wedangan itu udah melekat di masa muda kita," kata Hallal saat diwawancarai IDN Times, 2 Agustus 2026.

Ingin menimbulkan gaung bagi sekitarnya

Nama Resonansi sendiri punya filosofi yang cukup personal. Uniknya, Hallal dan Intan punya perbedaan pandangan soal ini. Menurut Hallal, ide dasarnya sesederhana karena manusia tidak bisa hidup sendiri.

"Kalau aku, resonansi itu gaung. Kalau ada benda ikut berbunyi karena frekuensinya sama. Kita dengan adanya resonansi ini berusaha menggaungkan sesuatu yang baik, dan harapannya bisa menjangkau orang-orang yang punya visi yang sama," tutur Intan.

Bagi mereka, gaung ini gak cuma berjalan satu arah dari kafe ke pelanggan. Tamu yang datang juga sering membawa cerita atau wawasan baru buat mereka, semacam gelombang yang saling menyahut dan sama-sama menguatkan.

"Jadi ketika ada tamu ke sini, akhirnya kenal kami, ya kita juga dapat dapat knowledge baru, kita dapat apa wawasan baru juga dari tamu. Bukan hanya dari kita tapi ada gelombang yang sama. Iya, meresonansikan gelombang yang baik," lanjut Intan.

Dari angkringan ke ramen dan burger

Muhammad Hallala (kiri) dan Intan Muninggar (kanan) di Resonansi. (IDN Times/Paulus Risang)

Pada 2022, angkringan itu sempat tutup untuk dirombak total. Pada 2023, tempat ini kembali buka dengan konsep yang berbeda. Sekarang menunya justru berpusat di ramen dan burger, dua menu yang sebenarnya sudah ada bahkan sejak era angkringan dulu.

Intan cerita, mi dan roti memang jadi core yang paling mereka senangi sejak awal. "Kita mau bikin sesuatu yang bisa mendeliver apa yang kami sukai. Mi dan roti itu yang sangat kami senangi, jadi roti kita wujudkan jadi burger, mi kita wujudkan jadi ramen," ujarnya.

Semua diracik sendiri dari nol, bukan produk jadi yang tinggal diolah ulang. Makanya Resonansi cukup percaya diri menyebut dirinya homemade untuk dua menu andalan itu.

Gak punya latar belakang kuliner, belajar dari YouTube

Yang menarik, baik Hallal maupun istrinya gak punya latar belakang kuliner formal sama sekali. Semua kemampuan bikin mi dan roti didapat secara otodidak.

"Aku bisa bikin mie dan roti itu cuma dari baca, nonton video, Reddit, sama Discord. Kita enggak pernah ikut short course. Kita otodidak, dan itu semua berawal dari video Willgoz yang judulnya Mie Ayam Abang-abang," kata Hallal yang sebelumnya berprofesi sebagai arsitek itu.

Video itu ditonton saat masa gabut di awal pandemi, dan dari situ Hallal mulai mencoba bikin mi sendiri pakai gilingan molen kecil. Sementara urusan kopi, dia mengaku memang sudah terpapar sejak zaman kuliah, jauh sebelum tren specialty coffee ramai di Jakarta.

Sementara, desain bangunan tanpa dinding dan pintu pun sebetulnya bukan konsep yang direncanakan matang sejak awal, melainkan respons atas situasi pandemi saat itu, ketika ruang tertutup dianggap kurang relevan. Belakangan mereka sadar konsep ini justru lebih hemat energi karena enggak perlu AC, dan kebetulan selaras dengan arsitektur pendopo Jawa yang memang terbuka sebagai ruang bersama. Soal cuaca ekstrem, atap sengaja dibuat rendah supaya gak terlalu tampias saat hujan deras.

Lokasi, menu dan harga di Resonansi Coffee Ramen Burger

Salah satu menu ramen dan burger di Resonansi Jogja. (IDN Times/Paulus Risang)

Buat kamu yang penasaran mau coba apa, ini deretan menu yang ditawarkan Resonansi:

Makanan:

  • Ramen: Aburo chili ramen, shio tori paitan, shoyu tori paitan, miso tori paitan, tan tan men.

  • Burger: Birdie, warrior, witcher, post mo, high rise.

  • Side dish: Beef mentai salad, niku dango, brisket chashu, wing drumsticks, chicken mayo mustard, ebi furai, french fries, blue matcha pudding, caramel brioche bun, cheesy brioche bun.

Minuman:

  • Black coffee: espresso, americano, drip-o-camo, manual brew.

  • White coffee: latte, cappuccino, magic, dirty latte, split, carmel mac, arum, laun, artati, cindaga, balu, choco latte, matcha latte.

  • Tea: kampul mint, lychee, lemon, pandan, milky.

  • Sparks: gelom, jerau, linggam, naira, lida, sinta, nila.

Harga makanan mulai dari Rp17 ribu-Rp65 ribu per item. Sementara, minuman berkisar antara Rp17 ribu-Rp50 ribu per item.

Karena andalan Resonansi adalah ramen dan burger , dua pilihan menu ini wajib dicoba. Burger dihidangkan dengan brioche bun yang lembut dan kaya rasa. Sementara, ramennya punya kuah yang creamy tapi cukup light di lidah.

Resonansi buka pukul 10.00-18.00 WIB pada Senin-Kamis dan 10.00-22.00 WIB pada Jumat-Minggu. Alamatnya berada di Jl. Nglengkong Besi, Nglengkong, Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Cita-cita Hallal dan Intan untuk tinggal dan menemukan makna hidup di Jogja bermanifestasi menjadi Resonansi, yang kini menjadi rumah sekaligus karya mereka. Dari situ, mereka berupaya meresonansikan gelombang yang baik kepada orang-orang yang singgah lewat cita rasa dan secangkir kopi yang dibumbui cerita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article