Bakpia jadi salah satu oleh-oleh yang hampir selalu masuk daftar belanja wisatawan saat pulang dari Yogyakarta. Tapi sekarang, memilih bakpia gak sesederhana dulu. Di rak toko oleh-oleh, bakpia pathok klasik berdampingan dengan bakpia kekinian yang tampilannya jauh lebih modern.
Buat yang belum familiar, keduanya sebenarnya berasal dari akar yang sama. Bakpia awalnya dibawa oleh pendatang Tionghoa ke Yogyakarta pada era 1930-1940-an, dengan nama asli "tou luk pia" yang berarti kue berisi daging. Isian daging babi kemudian diganti kacang hijau agar sesuai dengan lidah masyarakat lokal, dan berkembang menjadi bakpia pathok yang diproduksi di kawasan Pathuk sejak sekitar 1948. Kue ini awalnya bukan makanan asli Yogyakarta, melainkan berasal dari China, dengan nama asli Tou Luk Pia dari dialek Hokkian yang berarti kue berisi daging.
Nah, dari akar yang sama itu, muncul dua "jalur" bakpia yang berkembang ke arah berbeda, yaitu bakpia pathok tradisional yang bertahan dengan resep lama, dan bakpia kekinian yang terus berinovasi dari sisi rasa, kemasan, sampai cara mengolahnya. Biar gak salah pilih saat belanja oleh-oleh, berikut perbedaan spesifik keduanya.
