5 Fakta Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Kaya Manfaat

- Growol adalah makanan tradisional Kulon Progo berbahan dasar singkong yang dulu digunakan sebagai pengganti nasi, terutama saat masa paceklik.
- Proses fermentasi dua hingga empat hari memberi growol aroma khas namun menghasilkan tekstur renyah dan bisa dinikmati dengan berbagai cara seperti digoreng atau dicocol serundeng.
- Selain mengenyangkan, growol bermanfaat bagi pencernaan dan memiliki indeks glikemik rendah sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes.
Kalau berbicara soal kuliner khas Kulon Progo, kebanyakan orang mungkin langsung teringat geblek atau tempe benguk. Padahal, masih ada growol, makanan tradisional berbahan dasar singkong yang sudah menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat setempat sejak dulu.
Meski memiliki aroma khas hasil fermentasi, growol menyimpan banyak keunikan. Mulai dari sejarahnya sebagai pengganti nasi hingga manfaatnya bagi kesehatan, makanan legendaris ini masih layak masuk daftar kuliner yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kulon Progo.
1. Terbuat dari singkong, gak heran jika makan growol bikin awet kenyang

Di Kulon Progo, ketela atau singkong banyak ditanam dan tumbuh dengan subur. Makanya banyak makanan tradisional yang terbuat dari singkong dan salah satunya adalah growol ini. Seperti yang kamu tahu bahwa singkong memiliki kandungan karbohidrat. Oleh karenanya banyak dipilih oleh warga lokal sebagai salah satu menu pengganti nasi.
Pada masa lalu, terutama di musim paceklik atau saat kesulitan mendapat bahan pangan seperti beras, petani akan mengolah singkong yang dimilikinya untuk bekal makan ke sawah atau untuk makan sehari-hari. Soal tingkat kekenyangan, gak jauh berbeda kok dengan nasi.
2. Meski agak berbau, teksturnya renyah dan nikmat disantap
Sebagian orang enggan mencoba growol karena baunya yang sedikit aneh. Ini karena proses fermentasi singkong untuk dijadikan growol membutuhkan waktu rendam antara dua sampai empat hari. Nah, proses inilah yang menghasilkan aroma fermentasi khas, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai 'kecing'.
Namun aroma kecing ini justru jadi keunikan tersendiri, kalau gak bau bukan growol namanya! Eits tapi tenang, di balik baunya yang sedikit mengganggu ini, tekstur growol cukup renyah dan cocok untuk segala usia.
3. Ada banyak cara untuk menikmati growol

Jangan buru-buru menolak growol, ya! Bau yang menyengat ini bukan berarti gak bisa dinikmati. Masyarakat lokal punya segudang cara buat makan growol, mulai menjadikannya seperti nasi yang dimakan dengan sayur lodeh dan ada juga yang digoreng dengan tepung supaya ada tekstur renyahnya.
Namun ada cara yang lebih sederhana tapi dijamin bikin rasa growol jadi naik level. Yaitu menggunakan cocolan berupa serundeng. Serundeng adalah makanan yang terbuat dari kelapa parut yang rasanya ada yang gurih dan pedas. Nantinya aroma growol pun akan tertutupi dengan rasanya, kok.
4. Gak banyak yang tahu, growol juga baik untuk kesehatan pencernaan
Bukan sekadar makanan tradisional pengganti nasi, growol nyatanya juga baik untuk kesehatan pencernaan. Hal ini karena dalam proses fermentasi singkong selama dua sampai empat hari tersebut menimbulkan munculnya mikroba seperti Bacillus, Actinobacter, dan beberapa mikroba lainnya.
Nah mikroba-mikroba tersebut yang diduga berkontribusi terhadap kesehatan pencernaan berdasarkan hasil penelitian. Salah satu penelitian epidemiologi yang melibatkan peserta anak-anak dengan rentang usia 1-5 tahun sebanyak 472 orang, melaporkan bahwa semakin sering anak mengonsumsi growol, kemungkinan terkena diare lebih kecil.
5. Baik untuk penderita diabetes

Jadi penderita diabetes itu gak mudah sebab harus benar-benar pintar cari makanan dan minuman yang tepat. Growol memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih sehingga dapat menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat bagi penderita diabetes.
Hal ini sudah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Fransisca Shinta Maharani, seorang dosen Program Studi sarjana gizi di STIKES Panti Rapih, Yogyakarta. Namun, konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan, ya!
Di balik aromanya yang cukup kuat, growol menawarkan cita rasa sekaligus nilai sejarah yang membuatnya berbeda dari kuliner tradisional lainnya. Tak heran jika makanan khas Kulon Progo ini masih bertahan hingga sekarang dan terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan kuliner Yogyakarta.




















