Menapaki Pesona Labirin di Pusat Jogja Bersama Kolektif Gang-Gangan

- Gang Gangan mengajak warga menjelajah Jogja lewat tur jalan kaki, menelusuri gang dan sudut kota yang kerap terlewat.
- Kolektif ini memposisikan diri sebagai teman jalan, berbagi cerita personal dan pengamatan sosial, bukan tur sejarah formal.
- Demi kenyamanan warga, jumlah peserta dibatasi dan tur diarahkan agar tetap menghormati ruang hidup masyarakat lokal.
Yogyakarta, IDN Times - Pagi di Pendopo Pasar Beringharjo pada Minggu (4/1/2026) terasa lebih ramai. Sekelompok orang berkumpul dengan gaya effortlessly cool, mengenakan padu padan kaos, celana bahan longgar, dan sepatu nyaman membentuk lingkaran besar di tengah-tengahnya. Bukan, bukan mau unjuk rasa apalagi geruduk pasar, mereka adalah peserta tur jalan kaki yang diinisiasi oleh komunitas Gang-Gangan.
Gang-Gangan sendiri merupakan kolektif jalan kaki yang mengubah trotoar dan gang sempit menjadi ruang temu bagi masyarakat dari berbagai arah. Melalui ritual sederhana, pesertanya diajak menelusuri tempat-tempat yang tak banyak dijamah sekaligus merayakan detil kota yang sering terlewatkan kala terburu-buru.
1. Menempatkan diri sebagai teman jalan yang menyenangkan

"Semua berawal dari pandemi, waktu pandemi kita cukup terbatas untuk berwisata kan. Awalnya cuma aku dan teman-teman sekitar rumah yang karena pandemi jadi sering jalan-jalan di sekitar rumah. Dan ternyata, itu rekreasional juga," ujar Novia Puspita Shinta Dewi sebagai salah satu inisiator saat ditemui usai agenda Urap 2026 dari Gang-Gangan.
Dari perjalanan mengelilingi sekitar rumah, masuk gang demi gang unik yang kerap ditemukan secara tidak sengaja, mereka menjumpai spot-spot hingga cerita unik yang sayang kalau tak dibagikan kepada khalayak. Akhirnya, tercetuslah pembuatan akun Instagram @gang.gang.an untuk mengabadikan kisah-kisah yang telah dilewati.
Gang-Gangan berbeda dengan komunitas atau jasa jalan kaki lain di Yogyakarta yang mengajak jalan sambil menceritakan sejarah sebuah tempat. Mereka malah menempatkan diri sebagai teman jalan kaki yang menyenangkan bagi para peserta, sambil sesekali diselingi cerita tentang masa kecil yang pernah dirasakan para pemandunya.
Misalnya seperti saat melewati kampung Sayidan, Risna, pemandu jalan dari Gang-Gangan menceritakan bahwa sebelum tahun 2000-an, dulu tak ada pembatas yang memisahkan antara perumahan warga dengan Sungai Code sampai akhirnya terjadi banjir besar yang melanda Kota Jogja.
2. Melihat sudut pandang dalam gang yang punya cerita lewat waktu dan manusia yang berbeda

Di antara banyak gedung-gedung besar dan jalanan ramai yang bisa menjadi spotlight, Gang-Gangan justru menawarkan pesona jalan-jalan sempit. Shinta mengibaratkan bahwa gang adalah pembuluh darah dalam tubuh manusia di mana semua berawal dari sana.
"Kita jalan di pinggir trotoar, kita melihat toko, kita melihat bangunan wisata, itu kan sudah hal yang biasa ya. Namun ketika kita melihat gang, kita melihat perubahan, bagaimana manusia berperilaku sampai detail-detail kecil di dalam gang itu sebenarnya menarik buat dilihat," ungkap Shinta.
Betul saja, kalau tak ikut menelusuri dalam gang bersama Gang-Gangan, mungkin peserta tak akan tahu di mana bekas rumah Kassian Cephas, fotografer pribumi pertama di Yogyakarta. Atau rumah-rumah anggota organisasi Muhammadiyah, yang memiliki ciri khas mulai dari warna sampai ornamennya.
"Dan setiap melewati gang, walaupun tempatnya sama, tapi kita datangnya di waktu yang berbeda itu pasti pengalamannya juga beda. Warga yang kita temukan berbeda, kesannya juga karena waktu datangnya berbeda. Kita juga suka mengamati seperti tempelan calo, fosil-fosil zaman pandemi, dan dari tempelan-tempelan itu, kita bisa tahu kapan waktu tempelan itu bermula," ceritanya.
3. Batasi jumlah peserta supaya tak mengganggu warga lokal

Menelusuri gang tak serta merta bisa dicap sebagai upaya meromantisasi kemiskinan. Faktanya, di dalam gang, tak semua rumah kumuh dan reyot. Bahkan tak sedikit bangunan mewah dan unik yang menarik buat dinikmati. Namun buat Shinta, ini menjadi PR tersendiri supaya peserta Gang-Gangan tidak memiliki sudut pandang yang bisa melukai warga lokal karena ia sendiri merasa tidak bisa mengontrol masing-masing orang.
Upaya yang bisa dilakukan Gang-Gangan juga sudah cukup keras agar perjalanan mereka selalu diterima. Mulai dari memfilter dan membatasi jumlah peserta, hingga mengarahkan kamera ke benda-benda mati jika peserta ingin memotret atau merekam.
"Kita gak pengen warga merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita. Kita berusaha memosisikan diri sebagai warga sebuah kampung kalau ada warga bergerombol banyak, tidak menyapa, dan membawa kamera," kata Shinta.
4. Ajak orang-orang mencintai jalan kaki dan menjelajah daerah sendiri

Shinta mengaku bahwa Gang-Gangan jarang menerima ajakan tur. Mereka justru menyarankan orang-orang untuk mulai jalan kaki di sekitar rumah masing-masing.
"Harus cobain (jalan kaki), terutama dekat rumah. Karena biasanya, sebagai warga asli, justru memandang sesuatu yang keren itu harus yang jauh. Dan, karena terlalu sering melihat sesuatu yang jauh kita jadi gak sadar ada banyak perubahan di sekitar kita," pungkasnya.
Perjalanan tur Gang-Gangan hari itu ditutup dengan nyoto alias makan soto bersama-sama di Pasar Beringharjo. Kelelahan berjalan kaki sebanyak 6.000 langkah, rasanya larut lewat perbincangan, tawa, canda, dan kuah panas soto. Siapa yang sangka, para peserta ini awalnya adalah orang asing dan baru kenal belum ada enam jam tapi telah serasa kawan lama. Jadi, apa kamu berminat juga jalan kaki dan menelisik sudut-sudut dekat rumahmu?
















