Pameran Tidal Weavers: Islands Exchange di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Takahashi Mizuki mengatakan CHAT menempati bekas pabrik pemintalan kapas di Hong Kong. Karena itu, lembaganya memiliki perhatian besar terhadap sejarah industri tekstil dan warisan budaya yang menyertainya.
Ia menilai banyak tekstil tradisional Asia menyimpan keterampilan, teknologi, dan cerita yang luar biasa. Namun keberlanjutan tradisi tersebut menghadapi tantangan karena semakin sedikit masyarakat yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika tidak ada pengguna, bagaimana tekstil bisa bertahan? Karena itu kami mencoba menghadirkan pendekatan baru agar warisan tekstil tetap relevan dengan kehidupan masa kini,” jelasnya.
Menurut Mizuki, tekstil dapat dipandang sebagai museum hidup yang menyimpan sejarah, teknologi, identitas, dan cerita masyarakat.
Tidal Weavers mempertemukan seniman dari Indonesia, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina dalam program residensi serta kolaborasi komunitas. Para peserta melakukan riset lapangan di sejumlah wilayah seperti Tuban, Pontianak, Maumere, Sulawesi Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina.
Melalui penelitian tersebut, para seniman bekerja bersama komunitas lokal untuk menggali sejarah, tradisi, dan pengetahuan yang hidup di masyarakat. “Tanpa dukungan komunitas lokal, karya-karya ini tidak mungkin terwujud. Proyek ini membangun hubungan antarmanusia sekaligus menghasilkan karya seni,” ungkap Mizuki.
Direktur Hong-Gah Museum, Zoe Yeh, menilai proyek ini membuka ruang dialog antara seni kontemporer dan kerajinan tradisional. Ia menjelaskan banyak komunitas adat di Taiwan tengah berupaya menghidupkan kembali tradisi menenun yang sempat terputus akibat kolonialisme dan perubahan sosial.