LPDB Koperasi Salurkan Rp1,6 Triliun, Bidik Rp2,2 Triliun Akhir 2026

LPDB Koperasi telah menyalurkan dana bergulir Rp1,6 triliun kepada sekitar 150 koperasi di 35 provinsi hingga Oktober 2026, dengan target Rp2,1–Rp2,2 triliun pada akhir tahun.
Sekitar 85 persen pembiayaan diarahkan ke sektor riil, termasuk KDMP, hilirisasi sawit, perumahan rakyat, pangan, pertanian tebu, perikanan, dan kebutuhan BBM nelayan.
LPDB menyiapkan credit scoring untuk implementasi 2027 guna mempercepat penilaian pembiayaan, sambil mengukur kinerja melalui penyaluran, pemanfaatan produktif, serta pengembalian dana dan NPL rendah.
Yogyakarta, IDN Times - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi mencatat realisasi penyaluran dana bergulir mencapai Rp1,6 triliun hingga Oktober 2026. Dana tersebut telah disalurkan kepada sekitar 150 koperasi yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga turut menjadi sasaran penyaluran.
Direktur Utama LPDB Koperasi, Krisdianto, mengatakan pihaknya menargetkan realisasi penyaluran dana bergulir mencapai Rp2,1 triliun hingga Rp2,2 triliun pada akhir 2026. “Untuk saat ini sudah terealisasi Rp1,6 triliun. Itu tersebar di sekitar 150-an koperasi dan 35 provinsi. Mudah-mudahan sampai Desember nanti kita bisa tembus Rp2,1 triliun sampai Rp2,2 triliun,” ujar Krisdianto, disela agenda Media Gathering LPDB, di Yogyakarta, Senin (12/10/2026).
Ia menjelaskan, penyaluran dana bergulir tersebut diarahkan untuk mendukung sektor riil, sejalan dengan kebijakan pemerintah dan program prioritas Kementerian Koperasi.
Sebanyak 85 persen dana bergulir untuk sektor riil

Ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih. (IDN Times/Khusnul Hasana) Krisdianto menyebut, sekitar 85 persen dari target penyaluran Rp2,1 triliun diarahkan ke sektor riil. Pembiayaan tersebut mencakup berbagai program strategis nasional, termasuk pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Selain itu, LPDB Koperasi memprioritaskan pembiayaan untuk mendukung hilirisasi sawit, koperasi perumahan rakyat, serta penguatan ketahanan pangan dan kemandirian beras.
Pembiayaan juga diarahkan kepada koperasi yang bergerak di sektor pertanian, termasuk komoditas tebu, serta sektor perikanan. LPDB turut mendukung kebutuhan bahan bakar bagi nelayan melalui pembiayaan SPBUN atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan.
Menurut Krisdianto, arah penyaluran tersebut merupakan bagian dari upaya LPDB agar pembiayaan yang diberikan dapat mendukung kegiatan produktif koperasi sekaligus sejalan dengan program prioritas pemerintah. “Sebisa mungkin LPDB inline dengan program dari pimpinan, dari kementerian tempat kami berinduk, yaitu Kementerian Koperasi,” katanya.
Siapkan teknologi credit scoring untuk percepat penyaluran

Direktur Utama LPDB Koperasi, Krisdianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Untuk meningkatkan efektivitas penyaluran dana bergulir, LPDB Koperasi juga menyiapkan penerapan teknologi credit scoring yang ditargetkan mulai dikembangkan untuk implementasi pada 2027.
Krisdianto menjelaskan, selama ini proses penilaian calon penerima pembiayaan masih banyak dilakukan secara manual. Proses tersebut meliputi pemeriksaan dokumen yang diserahkan koperasi hingga kunjungan langsung ke lapangan.
Melalui teknologi credit scoring, LPDB berharap proses analisis calon penerima pembiayaan dapat dilakukan lebih cepat dengan memanfaatkan informasi yang terintegrasi.
Teknologi ini juga diharapkan membantu analisis laporan keuangan koperasi, termasuk pemeriksaan berbagai rasio keuangan, sehingga proses yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama dapat dipersingkat. “Kalau pakai teknologi, prosesnya bisa lebih cepat dan memudahkan. Analisis laporan keuangan dengan credit scoring bisa dilakukan dalam hitungan menit,” ujarnya.
Meski demikian, Krisdianto menegaskan penerapan teknologi tersebut harus melalui kajian dan uji coba. LPDB ingin memastikan sistem penilaian tidak terlalu kaku sehingga justru menyulitkan koperasi yang membutuhkan pembiayaan.
Menurutnya, tujuan utama penerapan teknologi bukan sekadar memperketat seleksi, melainkan mempercepat proses penilaian dan memperluas akses pembiayaan bagi koperasi yang layak.
Ukur keberhasilan dari penyaluran hingga pengembalian dana

ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama) Krisdianto mengatakan LPDB memiliki tiga indikator utama untuk mengukur keberhasilan pengelolaan dana bergulir, yakni sukses penyaluran, sukses pemanfaatan, dan sukses pengembalian.
Sukses penyaluran diukur melalui jumlah koperasi yang menerima pembiayaan serta besaran dana yang berhasil dicairkan. Sementara itu, sukses pemanfaatan dilihat dari penggunaan dana untuk mendukung kegiatan produktif koperasi.
“Adapun sukses pengembalian diukur melalui kemampuan koperasi mengembalikan pembiayaan dan menjaga tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap rendah,” ujar Krisdianto.
Ia mengatakan, apabila koperasi menghadapi kendala usaha yang disebabkan risiko bisnis, LPDB dapat memberikan pendampingan dan melakukan restrukturisasi pembiayaan sesuai ketentuan, selama permasalahan tersebut bukan disebabkan oleh kecurangan atau fraud. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dana bergulir agar dapat dimanfaatkan kembali oleh koperasi lainnya.






















