Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Fenomena Downgrading? Ini Penjelasan Ekonom UGM

Kota Yogyakarta
3 min read
Apa Itu Fenomena Downgrading? Ini Penjelasan Ekonom UGM
ilustrasi hemat (pexels.com/ Ahsanjaya)
  • Ekonom UGM Wisnu Setiadi Nugroho menyebut downgrading sebagai respons rasional rumah tangga menghadapi ketidakpastian ekonomi, dengan memangkas pengeluaran tersier demi kebutuhan pangan, kesehatan, dan pendidikan.
  • Fenomena ini menjadi tekanan ekonomi bila rumah tangga usia produktif menurunkan kualitas konsumsi karena anggaran terbatas, dipicu pendapatan riil stagnan, kenaikan biaya hidup, dan kekhawatiran pekerjaan.
  • Jika meluas ke kelas menengah, downgrading dapat melemahkan konsumsi, perdagangan, dan jasa; penundaan ekspansi serta perekrutan berisiko terjadi, terutama saat rumah tangga berutang atau menjual aset.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Fenomena downgrading atau peralihan ke barang dan jasa yang lebih murah tengah ramai menjadi perbincangan di tengah ketidakpastian ekonomi. Perubahan ini terlihat dari penyesuaian gaya hidup, pembatasan konsumsi, hingga pengurangan kepemilikan aset akibat pendapatan yang cenderung stagnan sementara kebutuhan terus bertambah. Sejumlah masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih murah, membeli produk dengan harga terjangkau, serta mengurangi frekuensi makan dan rekreasi di luar rumah.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan rumah tangga berupaya menjaga pengeluaran untuk kebutuhan utama, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan, dengan memangkas anggaran yang lebih fleksibel atau bersifat tersier.

“Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujar Wisnu pada 7 Oktober 2026, dilansir laman resmi UGM.

  1. Alarm bagi pemerintah

    Dalam teori ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai consumption smoothing, yaitu strategi rumah tangga untuk mempertahankan pemenuhan kebutuhan utama dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel. Wisnu menilai, penyesuaian tersebut bukan semata-mata upaya berhemat, melainkan tanda bahwa pilihan masyarakat dalam mengatur keuangan semakin terbatas.

    Menurutnya, dampak downgrading perlu dilihat dari seberapa luas fenomena tersebut terjadi dan kelompok masyarakat yang terdampak. Jika meluas ke kelas menengah yang berkontribusi besar terhadap konsumsi nasional, kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah.

    “Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.

  2. Dua faktor pendorong downgrading

    ilustrasi daya beli menurun
    ilustrasi daya beli menurun (pexels.com/ Muhamad Guruh Budi Hartono)

    Wisnu mengidentifikasi dua faktor yang mendorong fenomena downgrading. Pertama, pendapatan riil yang cenderung tidak bertumbuh ketika harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan energi meningkat. Akibatnya, daya beli rumah tangga menurun meski pendapatan nominal mereka tetap.

    Faktor kedua adalah melemahnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi mendatang, termasuk kekhawatiran mengenai keamanan pekerjaan. Situasi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

    “Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.

  3. Berisiko memperlambat aktivitas ekonomi

    Kendati demikian, Wisnu menilai downgrading tidak selalu mencerminkan penurunan kesejahteraan karena perubahan kebutuhan rumah tangga juga dapat memengaruhi pola konsumsi. Misalnya, ketika anak sudah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun. Namun, penurunan kualitas konsumsi akibat keterbatasan anggaran pada rumah tangga usia produktif perlu diwaspadai.

    “Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” jelasnya.

    Menurut Wisnu, tekanan daya beli yang berkepanjangan berisiko memperlambat aktivitas ekonomi. Penurunan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada sektor perdagangan dan jasa, hingga mendorong pelaku usaha menunda ekspansi maupun perekrutan tenaga kerja. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika rumah tangga mulai mengandalkan utang jangka pendek atau menjual aset demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    “Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” tutupnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More